Press "Enter" to skip to content

Agenda Tambahan

Dua puluh langkah di depan rumah jabatan Gubernur Sulsel, saya dan Rahmi Amy Djafar menunggu Agus Mawan. Berkas yang kemarin dibuat Mawan sepertinya ada yang salah sehingga harus diperbaharui.

Sambil menanti, Rahmi dengan kesibukannya membolak-balik halaman buku The Lethal White dan saya yang berkutat dengan layar laptop, harus jeda sejenak. Saya menuju teras depan memperpanjang umur dengan sebatang tembakau. Ia tetap dengan bukunya.

Langit Makassar sedang mendung sore itu. Dua hari menginjakkan kaki di kota ini, saban sore memang selalu hujan. Dan hari itu gerimis pun turun bak butiran salju. Terlalu halus untuk dilihat kasat mata.

Tiba-tiba, sesosok wajah muncul dari balik mobil yang terparkir. Wajah yang saya kenal bertahun-tahun silam dan telah berkali tahun tak berjumpa. Ialah Iskandar Cita. Founder Kampoeng Merdeka sekaligus penggagas Makassar Dagang.

Kami tak janji temu sama sekali. Ia ke Red Corner dengan satu urusan lain. Bertemu dengan seorang content creator. Nandar sempat menyebut namanya, tapi tak mampu saya bayangkan. Alias lupa sama sekali.

Setelah bertukar kisah. Kami pun sepakat bertemu kembali. Rabu mendatang selepas saya mengisi ‘kuliah’ singkat di depan tempat kami bertemu itu.

Selain menjalankan rutinitas kerja remote di Red Corner, saya juga datang untuk melihat lokasi pertemuan saya dengan Kaka Af Astrid. Dosen Jurnalistik di UIN Alauddin Makassar yang menitipkan mahasiswanya.

Saat menunggu take off di The Coffee Bean & Tea Leaf Cengkareng sabtu lalu, sebuah pesan singkat dari beliau masuk.

“Siapa tau bisa merepotkanmu. Biasa, mahasiswa ku mau dituntun ke jalan yang benar.” Begitu tulisanya setelah tahu saya akan pulang.

Sebelum ke Jakarta pun sebenarnya sudah beberapa kali kaka Jimut -sapaan Af Astrid- mempercayakan mahasiswanya belajar sama saya. Jangan tanyakan mengapa beliau begitu yakin ke hamba sahaya ini. Tapi saya menerimanya dengan penuh hormat.

Rabu pun tiba. Pukul 14.00 saya pamit AFK di Slack kantor untuk memenuhi janji mengisi ‘kuliah’ singkat mahasiswa UIN. Ada 32 orang yang menunggu hari itu.

Malamnya, janji temu dengan Nandar juga saya penuhi. Kami bersua di lantai tiga storenya di Tamalate. Ia mengajak membuat vidcast (video podcast) dengan saya sebagai tamunya. Sesuatu yang tak biasa saya lakukan. Karena pada dasarnya saya a man behind the camera.

“Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya gali dari dirimu,” begitu katanya setelah kami kelar take gambar terakhir.

Saya tahu kegelisahan itu. Dan saya menghargai setiap upayanya. Selain keterbatasan alat, saya pun malam itu tak bisa berlama-lama. Seseorang juga sedang menunggu di Enreco Coffee.

26 Desember mendatang, orang tersebut ingin mengundang dalam pertemuannya untuk membahas perkara “Persiapan dan Kompetensi Menyambut Era Digital 4.0”. Sesuatu yang tahun depan akan penuh tantangan.

Terus terang, saya tidak pernah membayangkan kepulangan ini bakal dipenuhi agenda-agenda lain. Saya juga merasa bukanlah siapa-siapa. Sebelum pulang, saya hanya berpikir bakal ngopi sepuasnya. Bertemu kawan yang memang ingin dan menyelesaikan kerja jarak jauh hingga paripurna.

Tapi kita tak bisa memilih orang melihat kita berbeda. Baik buruknya terima saja, sambil terus berjalan. Lebih baik banyak bicara lewat karya nyata. Karena pada akhirnya orang lainlah yang akan menilai.

Terima kasih Kaka Jimut dan Nandar atas penghargaannya. Semoga apa yang saya sampaikan ada manfaatnya.

Intip keseruan obrolan kami.