Press "Enter" to skip to content

Akhirnya Tulisan Saya Tayang di Mongabay dan Voxpop

Mungkin bagi banyak penulis, apalagi yang telah punya nama, rasa bahagia seperti yang saya alami sekarang bukanlah apa-apa. Bagi mereka, sekedar mejeng di media-media besar sudah hal biasa. Tak perlu lagi dirayakan apalagi sampai dibuatkan tulisan seperti sekarang.

Tapi bagi saya, ini sesuatu yang berarti. Setelah setahun terakhir tidak lagi menulis secara tetap di media massa, saya banyak menghabiskan waktu menulis sesuatu yang intens. Telah banyak tulisan yang saya kirimkan ke media-media besar yang menerima tulisan dari penulis lepas seperti saya.

Hasilnya ada yang menggembirakan, ada pula yang mengecewakan. Sekedar membalas email saya pun rasanya sungguh luar biasa. Apalagi sampai menayangkan tulisan atau liputan yang saya buat. Entah sudah berapa ribu huruf yang saya rangkai agar dilirik media-media bersangkutan. Tapi selalu berakhir dengan kekecewaan.

Tapi apakah saya putus asa? Tentu tidak.

Saya telah memilih menjadi penulis lepas, sehingga konsekwensinya harus saya tanggung sendiri. Menetapkan pilihan jadi penulis lepas bukanlah perkara mudah. Apalagi menetap di kota yang jauh dari hirup pikuk informasi nasional. Makassar memang bukan kota kecil, tapi penulis lepas belum diterima dengan baik disini.

Bukan pula saya tak mendapat tawaran dari media lokal selepas keluar dari media terakhir saya bekerja. Ada banyak yang menawari. Saya juga tidak ingin bersikap sombong, tapi saya menolaknya dengan halus dan berjanji membantu mereka jika dibutuhkan. Sebagai orang luar yang siap berbagi pengetahuan.

Saya telah berjanji pada diri sendiri, untuk membangun personal branding sebagai penulis lepas dan jurnalis indeph hingga investigasi. Tentu tantangannya sangat besar. Pertama, saya tak memiliki media tetap dan kedua, bekerja sendiri berarti dua kali lebih sibuk.

Harus menyiapkan usulan liputan, mengeksekusinya sendiri dan mengirinya ke media yang siap menerima. Syukur-syukur kalau usulan diterima, itu artinya sudah ada kepastian tulisan akan ditayangkan. Sayangnya tidak mudah mencuri hati editor-editor media nasional apalagi jika kita tidak dikenal.

Saya bukannya tak dikenal, namun selama ini karya saya lebih banyak beredar ditingkatan lokal. Membangun nama secara nasional bukanlah perkara mudah, tapi juga tidak sesulit yang dibayangkan. Asal bisa berkarya dan terus membangun kreativitas, akses itu akan mudah terbuka.

Sayangnya, selama ini karya-karya saya bertebaran dengan nama yang berbeda-beda. Adakalanya saya menggunakan nama lahir, adakalanya menggunakan nama panggilan, tidak terhitung pula jumlahnya yang saya menggunakan nama samaran alias anonim. Pilihan terakhir ini sengaja saya ambil ketika saat itu bekerja dibeberapa media secara bersamaan. Hehehe

Alhasil, saya pun tidak konsisten membangun personal branding. Itu yang membuat karya saya susah mendapat kepercayaan. Saya menyadari ini dan berusaha membangun branding dari awal lagi. Tapi tak perlu disesali. Karena terlanjur begitu, maka sebaiknya jalannya begitu saja.

Untung saja, beberapa media nasional mulai melirik karya-karya tulis yang saya torehkan. Salah satunya Mongabay Indonesia dan Voxpop Indonesia. Mongabay merupakan situs khusus isu lingkungan dan Voxpop menampung tulisan-tulisan kolom yang sifatnya santai tapi penuh makna.

Beruntung dua tulisan saya tayang di media itu. Satu kesyukuran sendiri karena saat ini saya lagi niat-niatnya membuat tulisan. Untuk media-media lain yang belum menerima tulisan saya, jangan khawatir, saya ditolak sekali dua kali sudah biasa dan saya tidak akan pernah menyerah mengirim karya ke kalian.

Hidup memang tak perlu selalu mudah dijalani. Kadang jalan terjal harus dilalui agar bisa menggapai puncak. Satu kesyukuran juga, karena saya tidak pernah berhenti menulis untuk blog ini dan Blogooblok yang telah saya besarkan bertahun-tahun.

Salam kreatif!