Press "Enter" to skip to content

Anak-anak yang beranak di Sulawesi Barat


Nyaris setiap orang yang ditemui di provinsi ini akan tahu lokasi anak-anak yang sudah menikah dan punya anak.

Matahari lagi terik-teriknya siang itu, Senin 11 Februari 2019. Saat saya menuju Dermaga Pelabuhan Karampuang dari arah Jalan Yos Sudarso.

Beberapa orang terlihat menunggu sembari berteduh di bawah atap kios penjual kaki lima. Sebagian lain berkerumun di pedagang minuman dingin. Siang yang terik memang pantas bersanding dengan minuman segar pelepas dahaga.

Saya bertemu dengan Suwandi (32) di salah satu kios penjaja minuman segar di tempat itu. Ia seorang mantri di Pulau Karampuang. Pulau ini terkenal akan keindahan pantainya, juga tentang pernikahan anak dan kawin-mawin antar keluarga.

Setelah menempuh perjalanan 10 menit, kami tiba di Dusun Karampuang 1, Desa Karampuang Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Lalu berjalan menyusuri setapak menuju Dusun Sepang di tengah pulau.

Saya bertemu dengan Ilna (15) di tempat ini. Firman Gunawan (28) suaminya menyambut kami dengan ramah. Ketika kami bertemu, Ilna tengah sibuk menggoreng ikan. Ruang tamu dan dapur rumahnya hanya dibatasi tirai tipis sehingga leluasa saya melihat aktivitasnya.

Ilna baru saja melahirkan anak pertamanya 18 hari lalu. Proses bersalinnya normal dan dilakukan di rumah itu juga.

“Sakit sekali,” kata Ilna menggambarkan persalinannya setelah duduk dan memangku anaknya di dalam kamar.

Meski merasakan sakit yang luar biasa. Ia tidak menyesali pilihannya untuk menikah muda. Sekolah yang berakhir begitu saja, membuat Ilna tidak punya pilihan lain selain sebagai ibu dan istri saat ini.

Tetangga Ilna, tepat di sebelah rumahnya, Ninda (19) juga tengah hamil dua bulan. Usianya memang lebih dewasa, tapi suaminya Irham baru 15 tahun. Sudah sebulan suaminya tidak pernah lagi muncul. Padahal Ninda tiga hari lalu sempat pendarahan. Untung kata Suwandi bisa ditangani dengan baik oleh bidang desa.

Ninda dan Irham masih sepupuan dan tinggal bersama-sama di pulau seluas 2.302 hektar persegi itu. Pernikahan seperti ini lazim belaka di Pulau Karampuang. Meski ada juga yang seperti Firman Gunawan, orang luar yang menikah ke dalam.

Berkendara ke selatan sepanjang 37 kilometer, kita akan mendapati kampung Firman Gunawan. Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju. Di tempat ini, akan dengan mudah pula kita menemukan pasangan muda.

Saya bertemu dengan Usnawati (17) di Desa Pokkang, Kecamatan Kalukku, Selasa 12 Februari 2019. Saat itu, ia tengah bekerja mengupas kemiri milik juragan kampung. Untuk pekerjaan memisahkan kulit dan isi kemiri ini, Usna diupah Rp1.000 per kilogram.

Sambil bekerja di bawah kolom rumah, ia tetap mengasuh anaknya yang berusia empat bulan. Suaminya Rudi sedang tidak di rumah ketika itu. Ia pergi membantu kerabatnya menanam jagung. Rudi berprofesi sebagai buruh bangunan, tapi sudah dua bulan ia tak dapat pekerjaan.

Usna menikah saat berusia 15 tahun. Masih duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Pertama 2017 silam. Sedangkan Rudi sudah 22 tahun.

Karena usia Usna yang belum memenuhi syarat untuk menikah berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, maka pihak keluarga saat itu memilih cara culas. Usia kelahiran Usna dimanipulasi menjadi 16 tahun, agar melewati ambang batas persyaratan.

Marlina (41) orangtua Usnawati mengaku membayar Rp1 juta kepada seseorang untuk menyelesaikan seluruh berkas di Pengadilan Agama. Hanya dengan cara begitu, keluarga muda ini bisa membikin akta kelahiran untuk anaknya, Muhammad Arkana.

Tapi lebih banyak pasangan muda di Sulawesi Barat yang memilih menikah secara agama, tanpa pengakuan negara. Ilna dan Firman, serta Ninda dan Irham hanyalah salah satu contohnya.

***

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Campalagiang, Abdul Khalid Rasyd,saat diabadikan di halaman kantornya di Campalagiang, Polman, Sulawesi Barat, Jumat, 8 Februari. Abdul Khalid Rasyd Kepala KUA yang kerap menikahkan anak dibawah umur, termasuk ponakannya sendiri yang masih duduk dibangku SMA beberapa waktu lalu. YUSUF WAHIL

Abdul Khalid Rasyid baru saja akan pulang ke rumah ketika kami bertemu, Jumat (8/2/2019). Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar ini beberapa kali menikahkan anak yang masih sekolah.

Terakhir adalah kerabatnya sendiri, dua pelajar Sekolah Menengah Atas dua pekan sebelumnya. “Hari ini ada lagi satu yang masuk,” kata Khalid di beranda belakang kantornya.

Nyaris setiap bulan bahkan setiap pekan tutur Khalid akan ada yang datang untuk menikah. Tapi KUA tidak punya kewenangan, sehingga selalu diarahkan ke Pengadilan Agama untuk mendapat dispensasi nikah. Persyaratan ini dibutuhkan bagi pasangan yang terhalang undang-undang.

Pihak Pengadilan Agama pun seperti tak punya pilihan. Karena banyak yang mengajukan dispensasi nikah mengaku telah hamil. Sehingga mau tidak mau, anak tersebut disahkan secara hukum. Tanpa mengecek lebih jauh apakah anak tersebut betul hamil atau tidak.

“Yang pasti sudah memenuhi syarat, kedua keluarganya datang bersaksi,” kata Muhammad Fauzan, Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Mamuju.

Karena alasan hamil inilah, tidak pernah ada pengajuan dispensasi nikah yang ditolak Pengadilan Agama Mamuju. Tahun lalu ada 13 dispensasi nikah yang disetujui. “Sepanjang 2019 ini sudah ada tiga pasangan baru,” sebutnya.

Soal manipulasi pengadilan ini, saya menemui Hj Rahma (52) di Kabupaten Majene, Minggu (10/2/2019). Ia orangtua dari Rusli (16) yang dua bulan sebelumnya menikahi Nanda Putri (15). Keduanya masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Pertama.

Saat kami bertemu, ia hendak ke Mamuju Tengah. Anaknya ditilang polisi karena motor yang digunakan tidak memiliki kelengkapan surat-surat.

Ia tak punya pilihan lain, karena keluarga perempuan menuntut untuk dinikahkan. Alhasil kedua keluarga sepakat berbohong di Pengadilan Agama kalau anak tersebut hamil. Padahal sampai sekarang kata Rahma, menantunya itu belum juga mengandung. Keduanya memang mengakui pernah sekali melakukan hubungan seksual. Tapi tidak sampai hamil.

Laporan Unicef dalam Analisis Data Perkawinan Usia Anak di Indonesia (2016) memang menempatkan Sulawesi Barat sebagai provinsi dengan prevalensi pernikahan anak tertinggi nomor satu.

Data yang dirangkum dari 2008 hingga 2012 itu menyebut rata-rata terjadi pernikahan anak 37,0 persen setiap tahunnya. Meski di 2018 turun menjadi 33,02 persen untuk pernikahan pertama di bawah 18 tahun. Namun, BPS belum merilis data khusus untuk anak laki-laki. Artinya, 33,02 persen itu seluruhnya anak perempuan.

Dari enam kabupaten di Sulawesi Barat, hanya Mamasa yang memiliki rasio pernikahan anak di bawah 30 persen. Selebihnya di atas 40 persen. Bahkan Mamuju Tengah mencapai 44,82 persen. Ironisnya, karena Majene sebagai pusat pendidikan menjadi lokasi pernikahan anak perempuan terbesar untuk usia 15 tahun ke bawah.

Tidak mengherankan di 2018 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Barat masih melaporkan adanya 130 pasangan yang menikah muda. 21 diantaranya berusia 10-14 tahun dan 109 pasangan berumur 15-19 tahun.

Kabupaten <=15 16 17-18
Majene 11.95 8.34 22.27
Polewali Mandar 10.09 6.59 25.38
Mamasa 5.05 6.07 22.16
Mamuju 10.90 7.97 23.11
Pasangkayu 11.37 8.40 22.64
Mamuju Tengah 9.87 8.40 26.55
Total 10.01 7.42 23.95

Persentase perempuan yang menikah pertama kali di atas usia 10 tahun (BPS 2016).

Rata-rata anak yang menikah muda juga akan putus sekolah. Kenyataan ini terlihat dari 1.330.961 jiwa penduduk Sulawesi Barat berusia 15 tahun ke atas hanya 20,12 persen yang punya ijazah SMA atau sederajat. Yang tidak punya ijazah bahkan lebih besar dari yang tamat SMA, 23,80 persen.

Data BPS itu juga menegaskan, rata-rata penduduk Sulawesi Barat didominasi tamatan Sekolah Dasar dengan porsi 35,55 persen.

Tidak Punya Ijazah 23.80
SD/MI 35.55
SLTP/MA 12.67
SMU/MA SMK 20.12
Diploma I/II/III 1.44
Strata 1/Diploma IV 6.19
Master/Doktor 0.24

Persentase Penduduk Sulawesi Barat 15 tahun ke atas berdasarkan ijazah tertinggi (BPS 2016).

***

Mulyani Hasan dari Yayasan Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) ketika Lokakarya tentang perkawinan anak yang digelar PPMN dan AIPJ2 di Makassar, Jumat (14/12/2018) menyebut, pernikahan anak sebagai fenomena gunung es.

“Lebih banyak akar masalah yang tak terlihat dan terukur ketimbang yang terlihat dan terukur,” katanya.

Ia menyebut rasa malu, kekhawatiran orangtua hingga harga diri punya andil besar banyaknya pernikahan anak di Indonesia. Ditambah dengan relasi gender yang timpang dan anggapan bahwa anak perempuan selalu jadi beban perekonomian keluarga.

Adat, tradisi dan pengaruh budaya serta ikatan sosial dan kekerabatan seringkali menjadi alasan melanggengkan pernikahan anak. “Terutama soal tafsir agama,” kata Mulyani.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rumah KitaB, praktik kawin anak bukan hanya disebabkan oleh kondiri di wilayah privat, tapi dipengaruhi oleh keputusan yang melibatkan kekuasaan, dari tingkat negara hingga global.

Maisuri T. Chalid, Ahli Kesehatan dari Universitas Hasanuddin Makassar juga mengatakan, perempuan yang berhubungan seksual di bawah 18 tahun memiliki potensi kanker serviks yang cukup tinggi.

“Bahkan resiko persalinan macet, hipertensi, pendarahan pasca melahirkan sehingga mengakibatkan kematian ibu dan anak sangat mungkin terjadi,” kata Maisuri merujuk ke pernikahan anak.

Memang belum ada kasus besar yang spesifik disebutkan akibat pernikahan anak di Sulawesi Barat. Tapi data Dinas Kesehatan Sulawesi Barat 2016 menyebut ada 248 balita yang meninggal dunia dalam setahun dan 296 ibu yang meninggal saat melahirkan dari tahun 2011 hingga 2016. Separuh dari penyebab kematian ibu melahirkan itu akibat pendarahan serius.

Saya menemui Nurlina (17) dan Muhammad Irfan (23) suaminya di Dusun Lombok, Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar. Mereka menikah 1 Mei 2017 lalu dan anak pertamanya lahir 14 Februari 2018. Aulia Ulfa baru akan menginjak satu tahun ketika kami bertamu ke rumah orangtua Irfan. Sementara Nurlina sudah enam bulan mengandung anak keduanya.

Dengan memasang dua koyo di kepalanya, Nurlina terus memangku boneka puppy milik anaknya ketika kami bercerita. Ia baru meletakkan ketika sang buah hatinya terjaga. Awal-awal menikah, Nurlina mengaku sering iri melihat teman-temannya yang masih bebas bermain.

“Awalnya sedih, tapi lama-lama jadi terbiasa juga,” kata Nurlina.

Nurlina juga bercerita soal persalinan pertamanya yang berlangsung normal. Tapi tidak dengan anak kakaknya. Mereka juga menikah muda.

Setelah kehamilan pertama kakaknya keguguran, kehamilan kedua malah berakhir lebih tragis. Anak tersebut meninggal saat persalinan. Kepala dan tubuhnya terpisah karena kesalahan penanganan. Sayangnya, pihak keluarga tidak mau memproses masalah itu ke kepolisian.

Meski resiko nikah muda sangat banyak, beberapa orangtua bahkan pemuka agama lebih memilih jalan itu untuk menyelesaikan masalah.

“Biasanya saya yang meminta mereka (anak-anak muda) itu menikah saja. Dari pada berbuat zina, apalagi sudah tidak sekolah dan tidak kerja,” kata Hasbi (50) salah satu imam desa di tempat Nurlina tinggal.

Kenyataan bahwa pernikahanan anak di Sulawesi Barat memang tinggi menurut Ridwan Alimuddin, Tokoh Literasi yang saya temui di Desa Pambusuang, Kabupaten Polewali Mandar bisa jadi karena istilah ottong.

Dalam Kamus Besar Bahasa Mandar (Abdul Muthalib, 1977) ottong berarti tindis. Yang dalam praktiknya perempuan bisa mendatangi keluarga pihak laki-laki untuk dinikahi jika merasa pernah disentuh atau bahkan hanya digoda saat berjalan.

Pernikahan Nurlina dan Irfan berlatar belakang ottong itu. Meski demikian, Nurlina menolak dengan tegas jika kelak, anaknya juga harus menikah usia muda.

“Pokoknya jangan,” katanya dengan suara sedikit meninggi dan Aulia dalam dekapannya. Matanya berkaca-kaca melirik suaminya ketika mengatakan itu.

Laporan yang sama dengan format yang berbeda pernah tayang di Beritagar.id dengan judul “Anak-anak yang Beranak”. Foto dalam artikel ini milik Yusuf Wahil.