Press "Enter" to skip to content

Etika Share Foto di Sosial Media

Pada 12 Juli 2018, saya mengupload satu foto tentang Lalu Muhammad Zohri. Pelari Indonesia yang berjaya di Tampere, Finlandia. Tapi ada diskusi yang kemudian berkembang di luar topik yang saya bicarakan. Yakni soal hak cipta.

Seorang teman photografer yang sering bekerjasama dengan saya bertanya, soal siapa foto yang saya share tersebut. Tapi teman lainnya yang menimpali setelah saya menjelaskan asal foto itu hingga berakhir di timeline saya.

Ia menulis: Ketik saja, foto diambil dari Twitter, selesai perkara, toh bukan foto yang dibahas tapi prestasinya?

Karena sama-sama tidak menerima perbedaan, diskusi makin panjang bukan membahas soal Lalu, tapi etik tidaknya memasang foto orang lain dalam postingan itu. Saya pun akhirnya menulis penjelasan panjang lebar soal masalah itu. Jawabannya saya bisa dilihat di bagian bawah.

Tapi sebelum mendengar penjelasan saya, berikut adalah postingan yang memancing diskusi panjang. Awalnya, saya memang tidak membubuhi credit photo. Tapi setelah diingatkan, saya menambahinya untuk memberi penghargaan.

Lalu Muhammad Zohri

Dia yakin menang, kita yang tidak. Begitulah saya kira batin Lalu Muhammad Zohri ketika mencatatkan namanya di papan skor dan membuat Lagu Indonesia Raya dinyanyikan di Tampere, Finlandia.

Dengan tedeng aling-aling, pemandu acara di televisi juga kaget atas prestasi Zohri. Juara dunia baru yang tidak punya rekam bagus bisa meninggalkan favorit juara dari Amerika, Jamaika, Afrika Selatan hingga Swedia.

Zohri melaju 10.18 detik melibas lintasan 100 meter. Sekaligus memecahkan rekor nasional pada kategori di bawah 20 tahun. Semua kaget karena prediksi lagi-lagi meleset. Seperti melajunya Kroasia ke final setelah menumbangkan Inggris 2-1.

Tapi mari tinggalkan dulu Piala Dunia. Coba sedikit alihkan pandangan ke putra Lombok yang masih belia ini.

Luput dari radar media karena semua tertuju ke Rusia. Zohri yang menyandang gelar Lalu di depan namanya mengejutkan. Ia berhasil menunjukkan kalau tidak ada yang tidak mungkin. Bahwa disepelekan bisa balik menempeleng. Bahkan lebih sakit dari yang diharapkan.

Namun dari suksesnya Zohri ada kepiluan di sana. Seperti di awal saya katakan, Zohri mungkin yakin menang, kita yang tidak. Terlihat saat ia berhasil, malah kelimpungan cari bendera negaranya sendiri. Sekedar untuk selebrasi. Kedua rival terdekatnya dari Amerika bahkan jauh lebih siap.

Atau menelaah wawancara kemenangan dirinya yang didampingi penerjemah yang kacau balau. Saya mendengar nada ketidak percayaan dalam wawancara itu. Sekali lagi bukan dari Zohri. Ia sangat yakin. Tapi tim pendamping yang sepertinya memang tidak mempersiapkan semua itu.

Semoga kita bisa menghargai setiap bakat. Meski harus selalu siap kalah, bukan berarti tidak menyiapkan diri untuk berdiri sebagai juara.

Proud for you Zohri!

NB: Credit Photo by Getty for IAAF

Berikut adalah penjelasan saya tentang hak cipta yang dipermasalahkan. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bersama. Karena tidak sedikit dari kita yang juga melakukannya. Untuk tidak membebani siapa-siapa, kedua orang yang memulai perdebatan saya samarkan.

Tema diskusi ini sebenarnya menarik. Berawal dari pertanyaan foto siapa ini? kita bisa membicarakan hal yang lebih besar. Karena pada dasarnya bukan hanya foto, tapi video dan tulisan juga. Khusus untuk tulisan sedikit lebih rumit, meski video dan foto juga tidak kalah mumet.

Saya harus berterima kasih kepada Andi yang mengingatkan saya akan pemilik sah foto ini. Pada awal komentar saya sudah jelaskan sejarah penjangnya. Dapat dari mana, sampai saya mencari tahu siapa pengguna pertama (media dalam artian).

Bang Roy menurut saya juga tidak sepenuhnya salah. Dan Andi juga tidak seluruhnya benar. Utamanya soal ini “Sebisa mungkin kalau ngeshare yang kaya gini sertakan sumbernya. Kalau belum tau mending tunggu sampai tau.”

Saya bisa jelaskan, tapi memang agak panjang dan semoga tidak melelahkan.

Dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (selanjutnya ditulis UUHC) memang mengatur soal gambar, utamanya pada pasal 12 ayat 1 dan Pasal 2 ayat 1 serta ancaman pidahanya ketika terbukti ada pelanggaran moral di pasal 24.

Namun UUHC tidak hanya mengatur hak eksklusif penciptanya. Dalam hal ini si fotografernya. Ada juga pasal 14 dan 18 yang mengatur pembatasan hak ekslusif. Saya mengutip penyataan dari Hukumonline soal pembatasan ini dalam UUHC.

Disebutkan kalau UUHC secara tidak langsung ‘memaksa’ pemegang hak cipta untuk memberikan ijinnya tanpa diminta sepanjang penggunaan tersebut ditujukan untuk kepentingan masyarakat luas. Kalau di Amerika Serikat dikenal dengan istilah “fair use”.

Di antara pembatasan tersebut adalah penggunaan ciptaan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

Sepanjang dilakukan terbatas untuk kegiatan yang bersifat nonkomersial termasuk untuk kegiatan sosial, tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta dan sumbernya disebutkan dan dicantumkan maka tidak dianggap pelanggaran hak cipta.

Saya menggaris bawahi kata nonkomersil. Karena tulisan yang saya muat menyertakan foto tersebut di sosial media. Yang sudah pasti bukan untuk memperkaya saya, atau dengan latar belakang komersil. Jadi saya pikir tidak ada pelanggaran hak cipta dalam masalah ini.

Bukan hendak membela diri. Saya bahkan setelah diingatkan menulis itu di akhir kalimat meski pada dasarnya tidak ada kewajiban bagi saya untuk melakukannya. Karena bukan saya pihak pertama yang menyebarkan. Ini sekedar memberi penghargaan meski bukan kepada si fotografernya. Karena saya pun tak tahu siapa dia. Ini memang bukan persoalan melanggar hak cipta. Tapi soal etika dan menyertakan sumber.

Karena saya pun sering mengalami hal yang sama ketika menulis artikel baik di sosial media atau website, sering kali dicuri atau disadur kembali orang-orang tidak bertanggung jawab.

Tapi kemudian mengapa tetap saya sebarkan, tidak menunggu sampai benar-benar tahu siapa pemilik sesungguhnya. Kembali lagi, ini soal fair use dan sepemahakan saya, mengacu pada tingkatan lisensi foto. Ada yang disebut Public Domain (PD) dan lisensi Creative Commons (CC). Sebenarnya masih banyak.

Tidak perlu saya jelaskan pengertian masing-masing. Saya langsung saja kepada pengaturan pengguna di sosial media. Baik Facebook, Twitter dan Instagram dan sebagainya masing-masing punya Term of Use (ToU). Ini mengatur soal hak cipta itu sendiri.

Dalam salah satu ToU itu terdapat tulisan:

Apabila Anda menerbitkan konten atau informasi menggunakan pengaturan Publik, artinya Anda mengizinkan semua orang, termasuk orang-orang di luar Facebook, untuk mengakses dan menggunakan informasi tersebut, dan mengaitkannya dengan Anda (yaitu nama dan foto profil Anda).

Isi yang sama juga di Twitter. Karena saya mengambilnya dari Twitter maka hal ini juga berlaku. Jika menelaah aturan itu maka tingkatan lisensi foto bisa berubah jadi creative commons. Kecuali ada tulisan dari si penyebar untuk public domain itu bebas sebebas bebasnya.

Karena foto ini pertama kali disebarkan oleh akun resmi Asosiasi Internasional Federasi Atletik (IAAF) di Twitter dan tidak ada nama si fotografer disertakan. Maka kemungkinan foto ini punya lisensi CC. Ada kewajiban untuk menyertakan sumber yang mengarah ke IAAF.

Tapi kembali lagi, saya tidak punya kewajiban untuk menyebut karena bukan diperuntukkan mencari uang. Kecuali tulisan ini dimuat di media dengan latar belakang bisnis. Wajib hukumnya menyertakan sumber. Namun kembali lagi, ini soal memberi penghargaan kepada pencipta karya.

Sebenarnya soal ini telah lama jadi perdebatan. Bukan hanya di Indonesia, tapi di belahan dunia lain juga demikian. Kepedulian awal untuk mencari tahu dan selalu berasumsi bahwa sebuah gambar dilindungi hak cipta dan berusaha mendapatkan izin penggunaan dengan benar, merupakan pilihan sikap yang bijak.

Saya setuju dengan Andi untuk terlebih dahulu selalu mencari informasi tentang sumber gambar yang bersangkutan dan mengetahui apakah pemilik gambar (baik langsung atau melalui penyedia gambar yang telah ditunjuknya secara resmi) menyediakan lisensi/ijin kepada orang lain baik dengan berbayar, non berbayar (gambar-gambar yang merupakan public domain) atau melalui lisensi creative commons (memberi ijin pakai dengan kondisi-kondisi tertentu).

Tapi saya juga tertarik dengan salah satu kultwitnya Arbain Rambey yang menulis, fotografer yang mengunggah karya foto di internet sudah seharusnya siap kalau fotonya diambil orang. Tentu ini tidak harus dibenarkan. Tapi bisa jadi pelajaran berharga bagaimana internet itu menciptakan sekaligus merusak banyak karya.

Saya merasa sudah melakukan sejauh kemampuan saya untuk memberi penghargaan kepada yang memotret pertama kali. Tapi toh saya juga tidak berhasil. Maka fotonya saya arahkan ke Getty Image sebagai penyedia gambar.

Sebenarnya diskusi soal hak cipta ini memang menarik. Apalagi mereka yang bergerak atau berprofesi di sektor industri kreatif seperti saya. Orang Indonesia memang perlu sosialisasi lebih lanjut agar bisa sama-sama menghargai karya. Bukan hanya foto, video dan tulisan pun sama.

Karena beberapa orang bahkan tidak sadar menyebar karya curian. Semisal menyebar video dari Youtube. Isi videonya memang asli, tapi disebarkan oleh akun lain, selain pemilik lisensi siar. Lalu di dalamnya dibubumi watermark seakan-akan dia pemilik utamanya. Padahal hak siar itu tidak mudah untuk dilepas.

Video begini juga lebih banyak yang disebar orang, dan kadang kita tidak sadar menjadi bagian pelanggaran hak cipta itu sendiri.

Seperti saya katakan di tengah tulisan, pembahasan ini cukup panjang dan semoga tidak melelahkan. Saya pun hingga sekarang masih belajar soal ini dan selalu berupaya memberi penghargaan dan penghormatan kepada karya orang lain yang saya kagumi.

Mohon maaf kalau diskusi ini malah berkepanjangan. Semoga kita bisa sama-sama belajar. Salam!