Press "Enter" to skip to content

Fact Checking Day

Hari ini adalah Hari Pengecekan Fakta Internasional. Relatif masih baru dibanding hari-hari lainnya. International Fact-Checking Network (IFCN) baru menetapkannya 2017 silam. Meski relatif muda, sepertinya bangsa ini harus merayakan.

Waktu-waktu terakhir informasi palsu sangat enteng tersebar. Ajaibnya, banyak yang termakan. Tidak perlu terkejut sebenarnya. UNESCO di 2012 lalu menyebut minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015 menempatkan Indonesia di peringkat 62 dari 70 negara.

Terbaru (sejauh yang saya tahu), Central Connecticut State University (CCSU) di 2016 merilis posisi Indonesia di urutan 60 dari 61 negara. Namun begitu, pemerintah melalui Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando (saya kutip dari Sindonews : Minat Baca Masyarakat Indonesia Ternyata di Atas Negara Maju) menyebut orang Indonesia menghabiskan waktu membaca 6 jam dalam sepekan.

Saya yakin akan banyak yang kontra dengan data-data itu. Saya melihat, masalah terbesarnya bukan disitu. Tapi soal pemahaman kita dalam menerima informasi. Karena minat baca yang sudah rendah, kemauan atau kesadaran untuk mengecek faktanya juga kemungkinan besar surut.

Berurusan dengan informasi palsu memang rumit. Laras Sekarasih Psikolog Media dari Universitas Indonesia menyebut, orang akan lebih cenderung percaya hoaks jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Politik misalnya. Semua akan memakan mentah-mentah jika sikap dan opininya sudah terafirmasi dengan kelompok tertentu. Sebaliknya pun berlaku.

Maka tidak heran, jika hari ini membuka sosial media akan sangat mudah menemukan informasi palsu berseliweran. Tentu saja tidak semua orang bisa mengenalinya. Kembali ke perkataan Laras. Yang palsu kalau sudah diyakini benar akan sekuat tenaga dipertahankan.

Harusnya hari ini dijadikan hari kesadaran bersama untuk pengecekan fakta. Jika semua orang memiliki sikap skeptis untuk setiap informasi yang diterimanya, maka kumpulan orang-orang yang termakan hoaks akan berkurang. Karena pada dasarnya, informasi palsu itu ada banyak wajahnya.

Kalau saya pribadi sudah berikrar untuk tidak mudah percaya informasi yang beredar. Saya tidak ingin hari yang harusnya indah berubah jadi drama. Ada tahapan-tahapan tertentu yang sebaiknya diambil untuk kemudian yakin bahwa informasi itu benar. Memang tidak semua orang tahu. Tapi semua orang sebenarnya bisa belajar. Ini soal mau atau tidak saja mengenali informasi yang diterima.

So stop hoax for now!