Press "Enter" to skip to content

Finding Hotel di Bumi Manakarra

Suara pilot dari kokpit pesawat membuat saya mempercepat gerak tangan. Cemilan yang dibagikan pramugari pesawat bernomor penerbangan GA-660 itu belum habis. Namun sang pilot sudah mengumumkan kami akan segera mendarat di Bandara Tanpa Padang, Mamuju, Sulawesi Barat.

Penerbangan dari Makassar ke Mamuju memang selemparan tangan. Dulunya orang-orang hanya punya pilihan naik mobil dengan waktu 8 hingga 9 jam. Cukup banyak waktu yang disimpan untuk sekedar duduk menyaksikan pohon, rumah dan ladang yang bergerak mundur dari balik jendela.

Keluar dari bandara, kami dijemput oleh Makmur. Pemandu dengan kuku jari kelingking yang sangat panjang dan rambut klimis yang padat dengan pomade. Ia yang akan mengantar jemput kami selama berada di Mamuju 15 hari kedepan.

Saya menyebut kami, karena saya bersama seorang teman fotografer dari Palembang. Namanya Mushaful Imam namun kalian boleh memanggilnya Syaful. Satu lagi Junaidi Ang, seorang keturunan China Ambon yang lebih senang dipanggil Bang Jud.

Yang pakai topi Bang Syaful, yang pakai baju putih Bang Jud.

Udara Mamuju ternyata jauh lebih panas dari yang saya bayangkan. Mungkin karena bandaranya sangat dekat dengan laut sehingga mentari betul-betul menyengat. Terlebih kesembawutan parkir kendaraan membuat hati semakin panas.

Kami lolos dari antrian menjengkelkan di bandara melaju menuju kota Mamuju. Kurang lebih satu jam dari bandara dengan jalanan yang mulus melempeng. Sepanjang perjalanan, Makmur banyak cerita lokasi yang hendak kami kunjungi beberapa hari kedepan.

Namun sebelum semua itu dijalani, hal pertama yang harus dicari adalah penginapan. Bang Jud yang harusnya lebih dini mengatur semua itu. Namun, ia sudah memastikan kalau hotel paling mentereng di Mamuju, d’Maleo Hotel sudah penuh dengan tetamu.

Tapi kami tetap menyambangi hotel tersebut. Meski hasilnya sudah bisa ditebak. Sengaja ke hotel itu untuk memesan dua hari kedepan. Selepas dari d’Maleo kami berkelana mencari kamar hotel. Satu hotel yang direkomendasikan Makmur juga penuh.

Kami kemudian mendatangi Hotel Mamuju City. Masih ada yang kosong. Namun saat mengecek kamarnya, kompak kami bertiga mengatakan tidak. Terlalu terperici jika harus saya jelaskan. Petualangan kami mencari hotel berakhir di Hotel Walet Mas.

Hotelnya lumayan bagus dengan kamar yang luas. Sayangnya, kami ditempatkan di lantai tiga dan bagunan ini tidak memiliki tangga otomatis. Jadilah setiap saat berpeluh naik turun. Tapi tetap bersyukur karena hotel ini mengingatkan kita akan pentingnya olahraga.

“Satu-satunya bangunan yang memiliki lift di Mamuju, ya d’Maleo itu,” kata Makmur.

Saya tidak keberatan menginap di hotel itu. Apalagi wilayahnya cukup dekat dengan pedagang kaki lima. Tidak jauh dari situ juga ada Pasar Baru Mamuju. Sayangnya, karena tidak ada kendaraan umum membuat kami tidak leluasa kesana kemari ketika Makmur pulang ke rumah.

Transportasi umum menjadi momok mengerikan ketika di Mamuju. Tidak ada jalur angkutan umum. Satu-satunya transportasi komersil yang bisa digunakan adalah ojek. Itupun kalau tahu nomor telponnya pengemudinya. Tapi Makmur berkabar sebelum pulang, kalau kota mereka sudah memiliki 10 unit taksi Bosowa. Ya, 10 biji untuk satu kabupaten. Itupun baru tiba sepekan sebelum kami datang, sehingga belum tahu harus menghubungi siapa.

Setelah membasuh muka, menyimpan segala perlengkapan di kamar. Kami menyusuri kota mencari rumah makan. Awalnya kami hendak makan jepa, makanan khas Mamuju yang terbuat dari sagu dan kelapa parut. Dimakan dengan ikan bakar akan lebih nikmat. Namun makanan itu tidak mengenyangkan.

Jadilah kami makan di sebuah warung prasmanan di depan Bank Muamalat Mamuju. Layaknya warung prasmanan, kami bebas ambil lauk sepuasnya. Menu-menunya terlalu menggoda untuk dilewatkan. Bayarnya juga tidak begitu mahal. Cocoklah untuk pelancong yang hendak menghemat.

Kami kemudian menuju Pantai Manakarra selepas makan. Matahari belum begitu rendah untuk menikmati senja. Lokasi Pantai Manakarra tepat di sisi kanan d’Maleo Hotel. Di tengahnya ada gong perdamaian mirip yang dimiliki Kota Ambon.

Tak perlu saya jelaskan lokasinya 🙂

Pantai ini hasil reklamasi jadi jangan membayangkan bermain pasir atau sekedar telentang mencoklatkan tubuh. Strukturnya sangat mirip dengan Pantai Losari di Makassar. Satu-satunya yang membuat dia istimewa adalah pemandangan Pulau Karampuang yang tepat di depannya.

Bagi orang Mamuju, Pantai Manakarra adalah kebanggaan. Saat sore dan malam, ada banyak anak muda menghabiskan waktu ketawa ketiwi di tempat ini. Tepat di seberang jalan berjejer ruko yang menyediakan beraneka macam makanan dan minuman. Namun rata-rata diisi oleh makanan Jawa.

Kami tidak menghabiskan banyak waktu di tempat itu. Selain tujuannya mencari tahu menuju Pulau Karampuang, juga menentukan titik terbaik mengambil gambar. Sepulang dari sana, kami menghabiskan malam di kamar hotel. Besok semuanya akan ditelusuri satu-satu.

Setelah sarapan nasi goreng dengan telur dadar di restoran hotel. Tak lupa secangkir kopi hitam sebagai pelengkap hari. Makmur pun muncul dengan membawa mobilnya. Hari ini jadwal bertemu orang-orang sangat banyak. Saya tak berencana menceritakannya disini.

Setelah semua urusan formal itu usai. Sorenya kami menuju Bukit Kelapa Tujuh, kurang lebih 5 kilometer dari kota. Jalananya menanjak dan berliku. Dari atas bukit bertulis Mamuju City itu kami memandang jauh Pulau Karampuang.

Pemandangan dari atas Bukit Kelapa Tujuh. Dibaliknya ada tulisan raksasa Mamuju City

Tepat di depan tulisan raksasa, rumah jabatan Bupati Mamuju berdiri kokoh. Lebih mirip villa mewah ketimbang rumah jabatan jika diperhatikan dengan baik. Entah saat itu sang bupati ada di rumah atau tidak, namun kendaraan banyak yang keluar masuk.

Pemandangan dari atas bukit ini jauh lebih menakjubkan. Udara panas dengan angin sepoi-sepoi membuat suasana hati jadi lebih damai. Sayangnya, kondisinya kotor dan tidak terawat. Pun huruf-huruf raksasa yang membentuk tulisan Mamuju City penuh coretan.

Beberapa hurufnya juga terlepas. Kata Makmur karena angin yang kencang membuat mereka tumbang. Ia kemudian menjelaskan, kalau satu huruf tulisan itu menghabiskan dana satu miliar. Entah benar atau tidak. Saya juga tidak menanyakan darimana ia tahu soal itu. Tapi kalau pun benar, sungguh luar biasa huruf-huruf itu. Satunya bisa menyelesaikan berkilo-kilo meter jalanan rusak.

Selain pemandangan menakjubkan dari atas sana, ketimpangan juga terpampang nyata. Sepanjang perjalanan ke bukit itu, rumah jabatan bupati di ketinggian seperti oase di padang pasir. Kemewahannya berjalan terbalik dengan realita di sekitarnya.

Ketika mobil kami tiba pertama kali, anak-anak di tempat itu langsung memandang penuh curiga. Seperti baru pertama kali melihat orang asing. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang mengerjakan balai-balai juga tak lupa melempar pandang.

Saat kami beranjak pulang, anak-anak yang lebih sepuluan orang itu datang berkerumung. Mereka meminta uang untuk 30 menit kami parkir. Mereka tampak berantakan, padahal tepat di depannya rumah mewah berdiri kokoh. Tapi mereka tetap ceria dan mengesankan.

Kami pulang setelah menikmati senja yang berkesan. Mungkin akan jauh lebih menyenangkan kalau-kalau ada yang menjual kopi atau kelapa di tempat itu. Maka sempurnalah kenikmatan melihat kota, langit dan Pulau Karampuang dari Bukit Kelapa Tujuh.

Selama tiga hari di Mamuju kami lebih banyak berkelana di kota. Mengunjungi satu orang ke orang lainnya, dari rumah makan ke rumah makan lainnya. Hingga waktu reservasi di d’Maleo hotel tiba, kami pun pindah dari Hotel Walet Mas.

Perjalan saya di Mamuju masih panjang. Akan ada banyak cerita mengejutkan kemudian.