Press "Enter" to skip to content

Hari Buku

Pagi sebelum keluar rumah. Di kursi panjang yang tak begitu empuk, saya rebahan sambil melirik keluar jendela. Akan hujan sangka ku. Setelah puas melihat atap bumi dan hutan hijau di kaki bukit. Tangan saya mengambil buku yang menumpuk membentuk menara. Tepat di samping sandaran kepala.

Tak ingin lepas dari leha-leha, pilihan jatuh pada buku yang di puncak saja. Buku berjudul ‘Di Balik Tembok Sekolah’ karya Bung Tri Joko Her Riadi jadi pilihan. Buku ini kumpulan laporan jurnalistik yang pernah cetak di Koran Pikiran Rakyat medio 2008-2017.

Saya kenal penulisnya. Bahkan sedikit tahu kisah cintanya. Membaca deretan kata hasil tangannya, serasa sedang berdiskusi panjang dengan dirinya.

Ada satu bab yang membuat saya berpikir panjang dalam buku itu. Bukan. Bukan soal penelusurannya tentang persekongkolan anggaran pendidikan yang ada kaitannya dengan Jusuf Kalla. Itu memang menarik, tapi semua tahu siapa yang jadi pemenangnya.

Saya berpikir panjang tentang laporannya yang membahas upaya secuil orang untuk membuat Peta Literer di Bandung. Tentang pasar buku yang menunggu mati. Tentang kebiasaan membaca. Hingga bagaimana sejarah literasi di Bandung berupaya dipertahankan agar bisa kokoh tak termakan arus digitalisasi.

Di momen Hari Buku ini, laporan Bung Joko sangat relevan untuk direnungkan. Ceritanya memang di Bandung. Tempat yang cukup jauh dari Makassar. Tapi sebenarnya berbicara tentang wajah literasi secara umum. Tentang Indonesia yang sangat luas ini.

Meski Peta Literer tidak berhasil dengan baik. Setidaknya pernah ada upaya untuk memulai. Bukan begitu?

Hari ini misalnya, di banyak sosial media. Ucapan selamat Hari Buku bertebaran. Tulisan ini pun menjadi satu dari sekian banyak ulasan tentang hari buku. Tapi ironis. Karena meski merajai trending topik di negri berpenghuni 264 juta jiwa ini, data-data tentang perbukuan masih miris.

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) per 2018 mencatat, ada sekitar 30.000 judul buku yang terbit setiap tahunnya. Jumlah yang masih jauh dari capaian Jepang di tahun 2012 sekalipun. Mereka sudah mampu mencetak 40.000 judul buku setiap satu kali orbit bumi.

Soal penjualan buku, Gramedia sebagai ritel terbesar mencatat mampu menjual 33.199.557 eksemplar di tahun 2013. Yang artinya, hanya sekira 13% dari populasi manusia kala itu. Tentu belum bisa disimpulkan sedikit. Karena masih banyak toko buku skala kecil dan menengah yang bertebaran di pelosok penjuru negri.

Tapi melirik kembali laporan Bung Joko. Bandung yang selama ini terkenal akan pasar bukunya, juga ikut tergerus. Banyak lapak yang akhirnya ditinggal pergi penjualnya.

Lalu apakah Hari Buku ini hanya serangkaian ucapan seremonial seperti yang sudah-sudah?. Saya sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Karena meski sedang populer, toh masih banyak yang belum suka membaca. Jangan tanya saya bagaimana membuktikannya. Lihat saja sosial media.

Saya hanya berharap, momen ini jadi perenungan bersama. Jika petuah bijak mengatakan, buku adalah jendela dunia. Semoga saja berarti kita harus benar-benar memaknai setiap bacaan yang kita lumat. Saya pun masih belajar jadi pembaca yang baik. Juga bermimpi mampu menelurkan karya-karya. Semoga saja Indonesia yang melek literasi mampu terwujud suatu ketika.

Amin dan Selamat Hari Buku!