Press "Enter" to skip to content

Hari ke-12.053

Genap 12.053 hari sudah saya hidup dan total 53 hari telah terkurung di rumah karena pandemi. Yah, sekali empat kali sih sempat keluar melihat dunia. Sedang ada yang berubah ternyata. Tapi bukankah bumi memang dirancang untuk berubah. Dibanding saya, bumi telah ada sejak 1.658 triliun hari yang lalu. Tak terhitung sudah perubahan yang terjadi.

Kepada hidup yang saya jalani juga begitu. Sejak tangisan pertama hingga cinta pertama, yang berubah bukan hanya postur tubuh, ukuran celana atau jenjang kaki. Isi kepala juga berubah. Bahkan perkara tidur pun berubah. Dulunya terbiasa tidur sendiri, sekarang telah berbagi ranjang. Meski jarak untuk sementara menjauhkan kami.

Tapi begitulah. Kita memang berubah.

Seminggu yang lalu seorang kawan dari masa lalu tetiba muncul. Ada rentang waktu 6.209 hari kami tak bertemu. Memanfaatkan kebiasaan yang berubah, kami pun video call untuk melihat wajah masing-masing. Jarak memang bukan perkara sulit untuk saling bertatap. Berkat pandemi, hal asing ini jadi kebiasaan.

Di seberang lautan nun jauh di sana, ia bersama teman-teman yang lain sedang kumpul. Makan ikan sembari menutup Syaban dengan gembira. Ada banyak yang hadir di balik kamera itu. Semuanya mengingatkan saya pada peristiwa ketika harus pulang sekolah berbau adonan. Di tanggal yang sama dengan hari ini.

“Kamu berubah,” kata Ika dari speaker smartphone.

Yah, saya berubah tapi ada yang tidak. Pandangan saya tentang takdir masih sama. Nasib tak akan berubah kalau bukan saya sendiri yang mengubahnya. Atau kopi terbaik adalah yang tak pakai gula. Dan masih banyak yang belum bahkan tak akan berubah. Seperti sayangku pada kalian. Iya kalian semua.

Sebenarnya saya tak pernah melihat 2 Mei itu sebagai hari yang sakral. Yah spesial sih (pakai telur) karena saya lahir. Tapi setelah ucapan selamat dari berbagai penjuru, tersisa beban yang banyak. Jatah hariku terus berkurang. Dan belum ada hal bermanfaat yang bisa saya berikan untuk bangsa misalnya. Selain bayar pajak tentunya.

Tapi apa pun itu, saya bersyukur. Hingga detik ini masih bernapas. Masih bisa menulis ini dan (mungkin) melihat sapaan dari kalian. Sudah separuh lebih usia wafatnya Rasulullah saya pakai berjalan di bumi. Semoga sisanya masih ada hal besar yang menanti. Dan saya selalu penasaran apa lagi di depan sana.

Yang di masa depan itu biarkan jadi misteri saja. Setidaknya ada yang menghibur. Kiriman video dari my little sunshine sejam lalu sebelum saya memposting ini. Memang sih diambilnya dari @akun_oraik, tapi setidaknya membuat saya terhibur. Untuk sejenak saya mampu menahan waras di ujung jurang menuju kegilaan karena covid-19.  

Terima kasih honey dan semua yang (mungkin khilaf) menyempatkan menyapa hingga esok. Stay healthy stay safe!