Press "Enter" to skip to content

Menoleh ke Selatan Jakarta

Awalnya Farid hanya mengajak mengunjungi toko buku di Pasar Santa. Ia tidak memberi banyak informasi, pasar macam apa tempat itu. Saya ikut saja sembari menghabiskan waktu sebelum kembali ke Makassar. Pun saya enggan menanyakan lebih jauh, karena tahu, ini kali pertama pula ia kesana.

Dua orang jauh yang berkunjung ke Ibu Kota dengan sepotong insting menjelajah setiap jengkal tanah. Setelah check out dari hotel, mobil dari aplikasi online pun menjemput, kami melaju memecah kemacetan. Dari Kapten Tendean ke Wolter Monginsidi, mobil baru menukik ke kiri di Jalan Cipaku lalu berhenti di pertigaan.

Tepat di depan mata, gedung besar bertuliskan Pasar Jaya di kanan atasnya menyambut kami. Saya dan Farid saling tatap, memastikan tujuan yang dimaksud sudah tepat. Ia bahkan berusaha mengecek, betulkan toko buku termaksud ada di pasar tradisional ini.

“Tapi lebih baik masuk dan mengecekanya langsung, bukan,” sanggah ku.

Kami berjalan ke lantai dua. Aneka ragam jualan ada di sini. Toko hape, baju, panci hingga tukang jahit bertebaran di setiap petak. Keyakinan kami salah alamat kian besar. Apalagi ketika menengok ke lantai dasar. Penjual beras, gula, sayuran berhamburan. Layaknya pasar, semua keperluan itu tersedia lengkap.

Karena tak ingin kecewa. Saya akhirnya menanyakan perihal toko buku yang kami cari. “Oh di lantai tiga, naik saja,” kata seorang pemuda berambut klimis sambil menunjuk tangga di depan kami.

Seperti memasuki pintu ke dunia lain. Lantai tiga yang ditunjuk pemuda barusan jauh dari gambaran lantai dasar dan dua. Tempat ini artistik. Meski beratap seng dipasang melengkung. Lantai ini memanjakan mata. Kios-kios warna warni bersisian satu sama lain. Beberapa sudah buka, lebih banyak yang masih tutup.

Beragam cafe bergaya modern dengan mudah ditemui di tempat ini. Ada yang kecil bahkan mengambil dua atau tiga petak sekaligus. (Foro: Ancha Hardiansya)

Kami datang memang menjelang siang di akhir pekan. Belum begitu ramai. Mungkin menyambut malam panjang sehingga bukanya lebih sorean. Kami akhirnya menjelajahi kedai-kedai yang telah buka. Sembari mencari di mana letak POST Bookshop yang jadi tujuan awal. Ketemu. Tapi belum buka. Di Instagramnya @post_santa tertulis Sabtu dan Minggu buka Pukul 3. Masih ada tiga jam lebih.

Karena melihat beberapa kedai kopi. Saya mengajak Farid untuk ngopi dulu. Pilihan jatuh ke Kopi Kosan, kedai di pojok utara depan tangga. Saya memesan Hot Americano dengan kopi blend. Farid tertarik dengan Ice Kopi Banana, kopi susu rasa pisang. Ada rasa unik dan lucu dari kopi banana itu kata Farid. Saya tidak tahu apa maksudnya.

Sembari menunggu, televisi di kedai itu memuat berita tentang pembunuhan Jamal Khashoggi. Jurnalis Saudi yang juga kolumnis Washington Post, penulis, dan mantan pemimpin redaksi Al Arab News Channel yang mati dibunuh di Turki. Kabar itu duka lara yang pedih. Jadi jurnalis memang selalu ada bahayanya. Tapi itu pilihan.

Selepas cerita perkembangan jurnalisme di Surabaya, — Farid dari Surabaya — saya baru menyadari tempat ini benar-benar unik. Orang-orang yang datang cukup trendi tapi anti mainstream. Banyak pria yang lalu-lalang memakai skinny jeans. Bahkan ada yang mengawinkannya dengan kacamata shutter shades. Perempuannya juga demikian. Gayanya memadukan warna kadang tidak kawin. Atasan dan bawahan cukup kontras. Di tambah, saya baru menemukan ada pria penuh rajah tapi mengapik buku-buku.

Saya tidak menghakimi mereka. Tapi baru menyadari, tempat ini dipenuhi gaya hipster. Sekumpulan orang yang punya kesukaan pada segala sesuatu yang dianggap berjiwa seni dan intelektual. Bagi mereka, tidak berlaku segala sesuatu apapun standar baku di masyarakat dan industri mainstream.

Demi mengobati rasa penasaran dan tentunya kekaguman akan tempat ini. Saya mengunjungi setiap kios yang telah buka. Coffee Shopnya cukup banyak dan beragam. Banyak jenis kopi ada di sini. Setelah menyantap makan siang di CDB, kembali kami mencicipi kopi di @diselatanjakarta. Saya mememasan kopi susu, Farid mencoba Coffee Beer asli Jombang.

Barista meracik minuman yang kami pesan. Nampak botol kaca yang harusnya diminum di tempat berisi Coffee Beer dari @diselatanjakarta (Foto: Ancha Hardiansya)

Sebelum akhirnya berlabu di POST Bookshop, kami juga mendatangi Laidback Blues Record Store. Toko musik piringan hitam. Belum pernah seumur hidup saya melihat toko kaset ini dijual. Pertama kali menyentuh vinyl record jenis ini di Solo beberapa tahun lalu. Tapi tidak pernah tahu, di mana tempat menjualnya, sampai bertemu dengan Pasar Santa.

POST dan Santa

Wajahnya penuh senyum. Blouse hitam yang ia kenakan sengaja diturunkan sebahu. Memperlihatkan rajah di tubuhnya dengan jelas. Bawahannya rok selutut bermotif kotak-kotak bertabrakan dengan sepatu flats dengan kaos kaki hitam setengah betis. Mungkin terlihat aneh. Namun itulah tujuannya.

Pakaian orang-orang hipster tidak memerlukan penyesuaian. Semakin dianggap tidak cocok, maka kian hipster. Mereka ingin menegaskan dari tampilan bahwa “aku tidak peduli”. Tapi mereka adalah orang-orang mandiri yang tahu bagaimana caranya membantu toko lokal, lingkungan, dan penjual kerajinan di jalan.

Pameran seni, pertunjukan film, band, dan berkumpul dengan orang-orang yang independen merupakan gaya hidup hipster.

Di Jakarta, Pasar Santa jadi salah satu pusat berkumpulnya orang-orang hipster. Pasar tradisional ini disulap lebih modern dengan tidak menghilangkan unsur tradisionalnya. Pedagang-pedagang lama tetap ada. Berjualan dan mencari hidup seperti biasa.

Toko buku POST yang banyak menjual buku-buku terbitan independen. Saya membeli satu di tempat ini. (Foto: Ancha Hardiansya)

“Kami lagi ada blind date with a book loh,” sapa perempuan bertatto penjaga POST Bookshop itu ke saya.

Ia pun menunjuk sekeranjang buku di sudut ruangan. Buku-buku itu telah dibungkus dengan warna berbeda. Hanya kutipan kecil yang ditempel di atasnya. Jadi pengunjung harus membayar 50K setiap buku yang diambil. Tidak peduli tebal tipis, atau dari penulis besar atau kecil. Semacam mencari keberuntungan dari lembar-lembar yang ada. Saya pun tergoda dan mengambil satu buku dengan kutipan unik.

“Anjing tanpa riwayat itu seperti datang dari langit, dikirimkan langsung oleh Tuhan untuknya.”

Beruntung. Saya dipertemukan dengan Risda Nur Widia dalam buku kumpulan cerpennya: ‘Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault’. Isinya penuh dengan makna yang lebar. Dari Basa Basi, penerbit independen di Indonesia, Risda mengajak untuk kembali lebih tiliti dan berziarah ke sosok Albert Camus.

Toko buku inilah yang membawa saya dan Farid datang menengok ke Selatan Jakarta. Mungkin juga sebagian lain yang berlabu dan tak ingin beranjak dari sana. Pertama kali Pasar Santa terkenal juga karena toko buku independen ini. Buku-buku unik yang tidak ditemukan di rak mall-mall modern bertaburan. Seperti menyapa dan merayu untuk dibawa pulang.

Kami menghabiskan lebih banyak waktu melihat koleksi. Membaca sinopsis dan meminum kopi sekali lagi. Menyaksikan semakin ramai orang yang datang. Sendiri, berduaan atau bahkan segerombolan. Orang-orang bersepeda fixie dengan gaya penuh vintage sudah biasa. Dan kami seperti ikut dalam kegaduhan tanpa batasan itu.

Tetiba ingat lagu White Shoes & The Couples Company ‘Kisah Dari Selatan Jakarta’. Tempat ini memang hidup. “Bukan gegap gempita serta baik buruk sarana, tiada angan hampa penuh peluh ataupun nestapa,” sepenggal kata dalam lagu itu. Betul saja, ini kisah yang tak akan mungkin terlupa, tanpa nuasansa asmara dan cinta.

***