Press "Enter" to skip to content

Lion: Jalan Panjang Si Anak Hilang

Studio 6 XXI Trans Studio Makassar tak seperti hari-hari biasa. Sabtu Malam 28 Januari 2016, nyaris seisi ruangan diisi penontong yang diundang. Ada Idris Manggabarani, adik kandung Jusuf Manggabarani, mantan Wakapolri yang katanya punya ilmu kebal. Juga ada sahabat Jusuf Kalla, Alwi Hamu yang kemaksuran bisnis medianya tak perlu dipertanyakan lagi.

Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, beserta istri juga turut hadir, meski telatnya bukan kepalang. Mereka sumua adalah tamu kehormatan dalam pemutaran film ‘Lion’. Film yang diadaptasi dari buku non fiksi karya Saroo Brierley yang menceritakan perjalanan hidupnya sendiri.

Konsulat Jenderal Australia di Makassar sengaja mengundang beberapa kalangan untuk menghadiri Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2017. Tahun ini adalah kali pertama FSAI diselenggarakan di Makassar. FSAI awalnya hanya dilaksanakan di Jakarta pada tahun lalu. Selain Makassar, Surabaya juga mendapat kesempatan menggelar FSAI tahun ini.

Richard Mathews selaku Konjen Australia di Makassar sangat berharap melalui film, hubungan Indonesia-Australia bisa makin erat. Ia juga berterima kasih kepada warga Makassar yang antusias ambil bagian dalam FSAI. Meski film ‘Lion’ diputar terbatas, namun tiga film lainnya terbuka untuk umum.

FSAI di Makassar berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama film ‘What They Don’t Talk About When They Talk About Love’ karya sineas Indonesia menjadi film pembuka. Sutradanya Mouly Surya juga turut hadir dalam pemutaran terbatas film ‘Lion’ yang diselenggakan malam harinya.

Sementara di hari kedua, film Australia ‘Looking For Grace’ dan ‘Spear’ akan diputar bergiliran. Khusus ‘Spear’, film ini mengangkat kisah penduduk asli Australia dari suku Aborigin. Kisahnya cukup menginspirasi dan penuh dengan visualisasi.

Kembali pada malam pemutaran film ‘Lion’. Saya merasa cukup beruntung karena pada pemutaran film ini, tokoh asli yang diceritakan difilm tersebut turut dihadirkan. Saroo Munshi Khan yang kemudian diadopsi oleh sepasang suami istri asal Tasmania Australia, John dan Sue Brierley bercerita bagaimana film ini akhirnya dibuat.

Saroo yang kemudian memakai nama belakang dari orang tua angkatnya itu mengatakan, ia tak pernah berpikir kisah hidupnya akan menjadi sebuah film. “Setelah saya berhasil menemukan ibu kandung saya menggunakan Google Earth, banyak media yang kemudian memberitakannya, lalu beberapa orang meminta saya untuk menuliskannya, sehingga menjadi sebuah buku berjudul A Long Way Home.”

Dari buku itulah, film ini akhirnya dibuat tanpa Saroo memprediksinya lebih jauh. Ia tak pernah menyangka kisah hidupnya akan mendapat empat nominasi di Golden Globe dan enam nominasi di Academy Awards. Ia berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan film tersebut.

“Semuanya digambarkan begitu nyata, saya berani menjamin 90% dalam film ini benar terjadi,” katanya sembari menyebut sosok Lucy (Rooney Mara) adalah penggabungan banyak sosok wanita dalam hidupnya.

Perjalanan Si Anak Hilang

Film ini dimulai dengan mengambil latar belakang daerah kumuh di kawasan Khandwa, India pada tahun 1987. Saat itu, Saroo masih berusia 5 tahun. Dalam film, Saroo kecil diperankan oleh Sunny Pawar. Ia adalah anak dari keluarga muslim yang miskin dan tidak lagi memiliki ayah.

Kakaknya, Guddu (Abhishek Bharate) adalah satu-satunya lelaki tertua di keluarga itu. Ibunya seorang buruh kasar sebagai pengangkut batu. Karena merasa sebagai lelaki, Saroo selalu ingin tampil heroik dalam keluarganya. Ia selalu meminta diajak oleh kakaknya untuk bekerja.

Meski Guddu berulang kali menolak keinginan adiknya, disuatu pagi ia akhirnya takluk juga. Setelah Saroo dengan susah payah menunjukkan keinginannya untuk bekerja dengan mengangkat kursi kayu lalu sepeda sembari berkata bahwa ia sudah kuat dan bisa bekerja. Wajahnya yang memelas membuat Guddu akhirnya mengijinkan ia ikut.

Pekerjaan Guddu tidak menentu, ia kadang mencari sisa-sisa koin dalam kereta api, atau mengangkat barang milik orang. Sekali Guddu keluar rumah untuk bekerja, ia biasa menghabiskan beberapa hari. Karena ia harus menumpang di kereta api untuk ke tempat lain.

Film ini mulai menunjukkan konfliknya, ketika disuatu malam, Saroo tertidur dalam pangkuan Guddu. Mereka kemudian berhenti di Stasiun Burhanpur. Karena masih anak-anak, Saroo tidak kuasa menahan kantuk. Ia akhirnya harus ditinggalkan oleh kakaknya di kursi stasiun kereta api. Dengan penekanan agar Saroo tidak kemana-mana.

Sialnya, saat dini hari, Saroo terbangun dan tidak menemukan kakaknya. Ia mencari kesana kemari hingga akhirnya masuk ke kereta api yang sedang parkir. Ia berharap, kakaknya akan menemuinya di dalam kereta, karena mereka tiba di tempat itu menggunakan ketera pula. Namun ia kelelahan, lalu tertidur di dalam kereta. Ia terbangun dan mendapati kereta sudah melaju cukup cepat.

Karena bingung, ia berlari kesana kemari mencari kakaknya. Berteriak sekuat tenaga namun tak ada gunanya. Karena suara masinis kereta lebih besar dari suara bocah lima tahun.

Kereta kosong yang ia tumpangi nyatanya tidak berhenti di tempat yang dekat. Kereta itu terus melaju dan tak mengambil penumpang hingga akhirnya tiba di Kolkata, sebuah kota tersibuk di India. Selama dua hari dalam kereta, Saroo tidak makan sama sekali. Hanya sisa-sisa buah yang ia temukan di tempat sampah yang ia komsumsi.

Di Kolkata, Saroo makin kelimpungan. Ia kesana kemari mencari kakaknya. Bertanya kepada orang yang ia dapati, namun tak satupun membantunya. Bukan karena tak ingin dibantu, tapi bahasa yang digunakan Saroo tidak sama dan tidak dipahami oleh orang-orang di Kolkata.

Ia sempat bertemu dengan satu keluarga yang paham bahasanya. Namun memiliki niat jahat. Setelah diberi makan dan dimandikan, Saroo tidur di rumah keluarga tersebut. Tapi kemudian melarikan diri ke esokan harinya. Ia menjandi gelandangan dan hidup dari sisa-sisa makanan orang lain. Ia juga mengambil makanan dari sisa-sisa upacara di kuil-kuil.

Setelah dua bulan menjadi gelandangan dan tidur di kolom jembatan, ia akhirnya dipertemukan dengan seorang pemuda yang paham bahasanya. Ia dibawa ke polisi lokal setempat dan dipindahkan ke Rumah Remaja (tempat umum untuk pemuda gelandangan dan kriminal).

Di tempat itulah ia kemudian ditemukan oleh The Indian Society for Sponsorship and Adoption (ISSA). Setelah berbulan-bulan berusaha mencari orang tua Saroo, pihak ISSA menyerah juga. Mereka tak tahu sama sekali dimana tempat yang disebut Saroo sebagai rumahnya, yakni Gunesttellay.

Semakin susah mencari orang tua Saroo karena ia tak tahu nama ibunya. Setiap kali ditanya siapa nama ibumu, Saroo akan menjawab “Ammi” atau “Ibu”. Kakaknya pun hanya dia kenal dengan panggilan Guddu. Sementara, nama itu cukup populer di India. Kesulitan inilah yang membuat ISSA mencarikannya orang tua angkat.

Singkat cerita, ia akhirnya diadopsi oleh pasangan suami istri dari Australia. Setelah proses pemindahan dilakukan. Lima tahun kemudian, ia mendapat saudara baru yang juga dari India, namanya Mantosh Brierley. Mereka berdua tumbuh bersama dengan keluarga baru. Namun hubungan Saroo dan Mantosh menjadi renggang setelah keduanya dewasa.

Mantosh yang memiliki trauma dimasa kecil selalu bersikap kasar kepada orang tua angkatnya. Beberapa kali pula yang harus melarikan diri dari rumah dan mengkomsumsi obat-obat terlarang. Namun begitu, hubungan keduanya tetap dijaga oleh ibunya (Nicole Kidman).

Setelah menyelesaikan kuliah, Saroo akhirnya diperkenalkan dengan teknologi Google Earth. Melalui teknologi inilah ia menelusuri kembali sisa-sisa ingatannya. Setelah tiga tahun gagal mencari kampung halamannya, ia kemudian mendapat satu kawasan yang sama sekali tak terpikirkan olehnya.

Dalam kisah aslinya, Saroo mendapat bantuan oleh salah seorang temannya di India melalui akun Facebook. Dari sosok orang India itulah ia bertanya banyak hal hingga akhirnya menemukan satu kata, Burhanpur dan Khandwa. Dari dua nama tempat ini ia kemudian memperluas pencariannya. Namun scene ini tidak ditampilkan dalam film.

Ia akhirnya menemukan kampung halamannya setelah tiga tahun mencari melalui satelit pada dini hari. Nama tempat yang ia selalu sebut di waktu kecil Gunesttellay, ternyata salah pengejaan. Seharusnya adalah Ganesh Talai, sebuah perkampungan muslim di kawasan Khandwa, India.

Dialog paling fenomenal dalam film ‘Lion’ ini saat Saroo hendak meminta ijin kepada ibu angkatnya untuk ke India. Saat itu Sue, sedang sakit dan Mantosh lagi-lagi melarikan diri. Ayahnya sibuk mencari Mantosh dan Saroo masih terpenjara oleh masa lalunya.

Singkat cerita, Saroo memohon maaf karena Sue tidak bisa punya anak dan ia bukan anak kandungnya, ia juga tidak bisa menghilangkan masa lalunya karena diadopsi bukan saat ia bayi. Sehingga kenangan masa kecilnya tak bisa ia lupakan.

Pada scene ini, akting Nicole Kidman sungguh luar biasa. Sosok ibu yang ia perankan cukup berkesan. Dengan mata yang berkaca-kaca, Sue berkata kepada Saroo, bahwa ia bukan tak bisa memiliki anak. Tapi ia dan suaminya memilih untuk tidak memiliki anak.

“Saya dan ayahmu bertekad untuk tidak memiliki anak, karena sudah terlalu banyak populasi manusia, kami hanya ingin merawat anak-anak yang kurang beruntung seperti kamu dan Mantosh, supaya bisa hidup layak dan berpendidikan. Itulah mengapa saya sangat mencintai ayahmu,” kata Sue.

Pesan yang disampaikan Sue ini cukup dalam. Sebagai keluarga yang mapan, ia tak hanya hidup untuk dirinya sendiri. Ia punya misi mulia yang berbagi dengan sesama. Ia pun akhirnya mengijinkan Saroo ke India dan sangat berharap ibu kandungnya ia temukan.

Setibanya di India, Saroo menjelajahi semua tempat yang masih hidup dalam ingatannya. Ia pun tiba di rumah semasa ia kecil. Namun, tak lagi dihuni oleh manusia. Rumah tersebut telah menjadi kandang kambing milik warga setempat. Karena tak lagi bisa berbahasa India, ia awalnya kesulitan bertanya dimana pemilik rumah tersebut.

Sesosok lelaki paruh baya akhirnya menuntunnya ke salah satu gang, dimana moment fenomenal dalam film ini akhirnya tercipta. Saroo bertemu dengan ibu kandungnya selama 25 tahun terpisah. Meski film ini cukup mudah ditebak alur ceritanya, namun mata penonton berair cukup deras pada scene ini. Saya pun tak sanggup menahan haru.

Akting Dev Patel sebagai Saroo dewasa cukup memukau. Ia mampu menginterpretasikan sosok Saroo dengan baik. Scene yang berlangsung cukup lama ini kian sedih setelah mengetahui, Guddu telah meninggal dunia karena ditabrak kereta api, ketika hendak mencari Saroo.

Film ini berakhir dengan sempurna, dan setelah filmnya usai, moment pertemuan Saroo asli dengan ibunya beserta ibu angkatnya pada tahun 2013 ikut ditampilkan. Saya sempat bertanya-tanya, ‘Lion’ yang dijadikan judul film diambil dari mana. Penjelasannya ada diakhir film. Lion adalah arti dari nama Saroo, yang berarti Singa.

https://www.youtube.com/watch?v=PSf8xaqJHlo&feature=youtu.be

Tepuk Tangan Yang Gemuruh

Setelah filmnya usia dan lampu bioskop dinyalakan kembali, terlihat jelas mata para penonton sembab. Semuanya bertepuk tangan dan kemudian tanya jawab dengan Saroo asli. Ia berkata, saat ini semuanya baik-baik saja. Bahkan Mantosh yang diceritakan kurang baik dalam film tersebut sudah berangsung baik.

Ia juga sudah tahu jalan pulang ke India, meski saat ini tetap memilih tinggal di Australia. Dalam salah satu talk show di Amerika, Saroo sempat ditanya tim kriket mana yang akan ia pilih saat Australia dan India bertemu, dengan enteng ia menjawab Australia.

Jalan panjang si anak hilang memang cukup memilukan. Namun kisahnya telah menginspirasi banyak orang. Termasuk sutradara Australia Garth Davis dan penulis naskah Luke Davies untuk membuat satu karya monumental. Semoga film ini bisa membawa satu piala di Academy Award. Tentu saja, bukan sebagai Best Picture, karena itu milik La La Land.