Press "Enter" to skip to content

Mengapa The Shape of Water?

Beberapa jam sebelum kami berpisah di Jakarta, Tommy Apriando dan Mas Tri Joko Her Riadi mampir di kamar saya. Tidak seperti diskusi hari-hari, kami cerita soal film malam itu. Tak lupa pula mengomentari penampilan Ayu yang sedang berdendang di layar kaca mengejar juara Indonesian Idol.

Tiga pria bicara tentang kontes pencarian bakat dan film. Sungguh satu perpaduan sempurna untuk menyisihkan kesan maskulinitas. Tentu, karena sangat jarang ada bapak-bapak yang duduk santai sambil cuap-cuap soal kontes menyanyi. Berteman kopi dan rokok tentu saja. Meski yang merokok hanya saya.

Malam itu, saya cetuskan yang akan menang Ocsar sebagai film terbaik tahun ini adalah The Shape of Water.

Dua sabahat saya yang baik hati itu, belum menyaksikan tentu saja. Saya pun menceritakan mengapa film ini layak jadi film terbaik. Salah satunya, karena film garapan Guillermo del Toro, sutradara asal Meksiko ini tidak hanya soal cinta seorang bisu ke monster air dari Amerika Selatan.

Jauh melampaui semua itu, keberuntungan The Shape of Water karena elemen-elemen yang ada dalam film itu sangat mewakili Oscar. Ada cerita diskriminasi kulit hitam di dalamnya, ini mewakili film Get Out. Ada cerita gay yang merepresentatifkan Call Me by Your Name.

Pemeran utamanya, Sally Hawkins juga mewakili film Lady Bird yang disutradari seorang perempuan dan film Three Billboards outside Ebbing, Missouri yang menggambarkan perempuan kuat. Ditambah lagi ia memerankan disabilitas bisu yang seakan mewakili ketidak mampuan Alma dalam film Phantom Thread yang sulit lepas dari jerat laki-laki.

Melihat elemen-elemen itu, film The Shape of Water sekali lagi bukan hanya soal cinta-cintaan. Ia mengusung tema ketidakadilan dan tentu saja perlawanan. Sangat mewaliki kampanye Hollywod atas kasus pelecehan seksual yang terjadi saat ini.

Masih hangat dalam benak bagaimana Harvey Weinstein, dituduh memperkosa lebih dari 50-an perempuan. Produser film kenamaan itupun harus mempertanggungjawabkan kelakukannya. Pelaku industri film dan hiburan Amerika kemudian meluncurkan kampanye #MeToo dan #TimesUp sebagai simbol perlawanan.

Jadi sangat wajar, The Shape of Water keluar sebagai film terbaik Oscar tahun ini. Tak lupa, Guillermo del Toro juga dinobatkan jadi sutradara terbaik. Tangan dinginnya berhasil membawa kesan misterius disepanjang film berlangsung.

Tak lupa, jika dilihat dari kacamata politis, The Shape of Water mengkritik banyak hal, atas sikap Presiden Donald Trump yang terkesan kejam terhadap para pendatang misalnya. Film ini meski digarap fantasi, namun penuh pesan-pesan tersirat.

Tapi jika ditanya, apakah The Shape of Water jadi favorit saya tahun ini?. Tentu saja ini tidak penting, namun saya akan menjawab. Bukan.

Dari sembilan nominasi film terbaik, semuanya bagus dan saya suka. Dalam lingkup yang kecil itu, saya mungkin akan memilih Three Billboards outside Ebbing, Missouri sebagai perwakilan. Di dalamnya ada ketidakadilan hukum yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia.

Tapi secara cerita, 2017 banyak yang menurut saya menarik. Saya suka kisah yang diangkat Wonder atas anak dengan kelainan wajah yang selalu dirundung di sekolahnya. Atau Rebel in the Rye dan The Pirates of Somalia serta The Post yang mewakili pekerjaan saya sebagai penulis sekaligus jurnalis.

Saya juga sangat tersentuh dengan kisah yang diangkat dalam film Brads Status. Ini sangat mewakili banyak bentuk dalam diri seorang lelaki. Tapi mereka tidak ada dalam daftar Oscar.

Meski begitu, saya senang The Shape of Water jadi rajanya tahun ini. Sekaligus menegaskan prediksi awal saya atas film ini. Apalagi Coco juga keluar sebagai film animasi terbaik dan original songnya, Remember Me ikut dapat piala. Seakan mewakili semuanya, semoga kita masih saling mengingat di tahun-tahun mendatang.