Press "Enter" to skip to content

Menilai Kesopanan Kita

Frasa “Anda sopan, kami segan” seperti punya tempat tersendiri di kepala saya. Tidak tahu kapan dan siapa yang mengeluarkan tagline tanpa tendensi politik itu, tapi ia hidup dan mungkin juga banyak yang mengaminkan di luar sana.

Saya teringat seraya merenungkan pepatah tua itu. Di warung kopi yang baru saja ditinggal peserta diskusi awal tahun. Sebuah lembaga pengawal kebijakan pemerintah baru saja memakai tempat itu. Meja-meja sudah beres di kembalikan ke tempat asalnya. Gretek kipas yang berupaya mendinginkan ruangan mulai terasa kekurangan beban.

Hari mulai gelap. Samar-samar kalimat salam di masjid sebelah dilafalkan sang imam. Baru saja mata saya kembali serius menatap layar. Ketika dua remaja berkerudung coklat dan putih memarkir motornya. Satu orang tak menanggalkan pelindung kepala. Mereka berjalan masuk tanpa ekspresi di wajah.

Ujung mata saya menangkap geraknya. Saya melempar senyum. Tidak dibalas. Tapi mereka menghampiri. Lalu sekonyong-konyong menyodorkan amplop putih.

“Duduk dek,” kata saya berupaya ramah.

Tak ada jawaban dari mulutnya. Seketika balik badan dan berjalan menjauh. Tangan saya masih sibuk membuka amplop yang baru saja mereka sodorkan. Sembari sibuk melihat isinya, ujung mata saya mengikuti gerak langkah keduanya.

Mereka malah kian menjauh. Saya pikir hanya mau menarik kursi dan duduk semeja dengan saya. Sangkaan baik masih saya pupuk. Pikirnya ada yang tertinggal di kendaraan. Hendak di ambil dan kembali masuk menemui saya. Ataukah ada teman yang menunggu di luar yang sekaligus mau diajak duduk.

Ternyata tidak. Perempuan yang tak melepas helm itu memasang kunci. Yang berkerudung cokelat menarik mundur, lalu duduk di atasnya. Mesin menyala dan mereka siap kembali bergabung dengan pengendara lainnya. Di jalanan yang ganas. Yang hanya mengenal merek-merek. Tanpa mau bersahabat dengan pejalan kaki.

Bingung, tentu saja. Tak pernah seumur-umur saya menghadapi situasi canggung begitu. Kurir yang saban hari selalu datang, bahkan selau memulai dengan sapaan. Ia pasti menanyakan, apa benar ini tempat A?. Atau nama A apakah di sini?. Jangan sampai salah alamat pastinya.

Karena heran. Mata saya tidak pernah lepas dari mereka. Berharap masih ada pandangan balasan. Isi amplop putih berupa kertas satu halaman itu saya kibas-kibaskan. Memberi kode dan mempertanyakan dengan isyarat perihal apa yang ia berikan itu.

Sengaja tidak memanggilnya dengan suara. Selain karena terkesima dengan ulahnya, saya juga ingin melihat reaksinya. Cukup dengan kode penuh tanya mereka akhirnya urung melaju. Motor kembali ia parkir. Kini helm keduanya mereka lepas.

“Kenapa langsung pergi,” saya tanyakan setelah akhirnya mereka berdua duduk. Itupun tidak dijawab. Keduanya hanya saling tatap lalu tersenyum.

“Memang disuruhnya begitu?”

“Saya hanya disuruh antar kak”

“Tapi apa memang begitu mintanya, datang lalu pergi begitu saja tanpa ada aiueo”

Lagi-lagi mereka hanya diam dan tersenyum kecut. Saya pun menanyakan isi suratnya apa, dari mana, untuk siapa dan tujuan apa?.

“Saya juga tidak tahu kak. Karena saya pulang lewat sini jadi diminta bawa sekalian,” begitu jawabanya.

Setelah saya baca suratnya. Saya kahirnya tahu itu dari sebuah kampus di Makassar. Sebuah Program Studi (Prodi) di kampus itu hendak menggelar acara. Surat itu datang sebagai permohonan kerjasama untuk suksesnya acara tersebut. Tapi yang membawanya pun tak tahu apa yang ia antarkan.

Jika melihat isinya, reaksi mereka tidak sebaiknya demikian. Apalagi mereka yang bermohon. Andai kata saya ini pemilik modal, dihadapkan dengan calon peminjam seperti ini. Tidak ada sepeser pun yang rela saya berikan.

Selepas mereka pergi, saya hanya menanyakan kembali frasa “Anda sopan, kami segan” itu. Rasa-rasanya kita masih orang timur. Bahkan budaya barat yang sering kita caci maki membabi buta pun, masih paham adat bertamu seperti ini.

Saya punya kenalan orang Prancis. Ketika ia datang ke Makassar bertahun silam, kami sempat bercerita soal adab timur dan barat. Ada satu kisah yang mirip. Bahwa mereka masih menghargai tuan rumah ketika bertamu. Hanya masuk ketika disilahkan. Atau waktu tertentu yang disepakati.

Tak berani saya katakan, apakah saat ini kita sudah tidak beradab. Atau memang itu tidak penting lagi diajarkan. Dulu saya masih ingat, akan dijewer ketika berjalan di depan orang dewasa tanpa ‘mappatabe’ dengan sedikit membungkukkan badan. Itu hanya berjalan. Bayangkan kalau saya masuk rumah orang tanpa ba bi bu lalu pergi begitu saja.

Tapi sudahlah, mungkin jaman memang begitu.

Note: Ilustrasi by smparrafidrajat.sch.id