Press "Enter" to skip to content

Menjadi Jurnalis Profesional

Sebahagian besar jurnalis di dunia menganggap dirinya profesional setelah Bill Kovach mengeluarkan buku ‘Sembilan Elemen Jurnalisme’. Buku itu menjadi semacam panduan dan standar baku jurnalis saat bekerja.

Kata profesional yang dijabarkan Kovach memang bukan hal sepele. Untuk diucapkan memang mudah, namun saat dijalankan tidaklah demikian. Kesulitan bertambah sejalan dengan pemahaman profesi dan kode etik yang buruk. Apalagi kian mudahnya seseorang menjadi jurnalis.

Fenomena ini tidak berlaku sepihak saja. Alias di tingkatan lokal, skala nasional pun setali tiga uang.

Sebagai pilar keempat pada sistem demokrasi Indonesia, jurnalis punya peran penting. Jika pilar ini diperankan mereka yang tak tahu makna profesi, maka tunggulah kekuasaan hanya akan dikendalikan segelintir orang dengan tujuan yang samar-samar. Dan itulah yang terjadi saat ini.

Kata profesi memiliki beragam makna. Dari sekian banyak penjelasan soal profesi, pendapat Brandeis yang banyak dijadikan rujukan.

Brandeis berpendapat bahwa pekerjaan yang disebut profesi adalah pekerjaan yang memiliki dukungan berupa: ciri-ciri pengetahuan dan diabdikan untuk kepentingan orang lain.

Keberhasilannya pun bukan didasarkan pada keuntungan finansial namun didukung oleh organisasi (asosiasi) profesi yang tugasnya, antara lain, menentukan berbagai ketentuan yang merupakan kode etik serta bertanggung jawab dalam memajukan dan menyebarkan profesi yang bersangkutan, serta ditentukan adanya standar kualifikasi profesi.

Secara umum profesi bisa disimpulkan sebagai sebuah pekerjaan yang menuntut pengetahuan yang tinggi, didedikasikan pada masyarakat umum, diwadahi dalam sebuah organisasi profesi yang bisa mengatur kode etik profesi.

Dewan Pers Indonesia telah menetapkan tiga organisasi jurnalis sebagai wadah persatuan profesi. Yakni, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Mereka punya pengertian masing-masing tentang profesi dan kode etik.

Disamping itu, beragam organisasi dengan konsep berbeda juga muncul. Semisal Pewarta Foto Indonesia (PFI) dan lain-lain.

Karena jurnalis adalah profesi, maka sangat penting kedudukannya untuk paham apa yang sedang ia kerjakan dan perjuangkan. Memilih menjadi jurnalis, sama artinya mewakafkan diri kepada masyarakat sebagai penyambung lidah, penguasa dan masyarakat.

Karena kenyataan yang muncul kemudian tidak seperti yang diharapkan, kata profesional pun menjadi bias. Tantangan terbesar seorang jurnalis adalah independensi, sementara untuk menjadi profesional hal utama yang harus diperhatikan adalah independensi. Kurang independennya seorang jurnalis sedikit banyaknya dipengaruhi oleh ketidak tahuan profesi dan keahlian yang baik.

Keterbatasan pemahaman jurnalis soal profesi dan independensi karena tidak bernaung dalam satu organisasi jurnalis.

Banyaknya jurnalis baru yang lahir dengan proses yang mudah juga mendorong rendahnya mutu yang dihasilkan. Fenomena ini memang bukan tanpa sebab, karena mencari orang sebagai jurnalis bukan tidak susah. Alhasil mencomot siapa pun dilakukan. Tanpa membekali ilmu yang baik soal profesi dan independensi.

Main comot seperti ini yang menyuburkan penyimpangan profesi, ditambah lagi masih rendahnya upah jurnalis lokal. Banyak bibit-bibit potensial yang akhirnya urung menjadi jurnalis karena citra buruk yang muncul. Gaji yang masih jauh dari kata layak untuk sektor pekerjaan dengan predikat profesi.

Masalah ini harus bisa ditangani dengan menumbuhkan kesadaran semua pihak. Bukan hanya jurnalisnya, tapi lebih utama ke pemilik medianya untuk sama-sama membangun profesi yang ideal.

Jadi jurnalis profesional dan independen memang bukan perkara mudah, namun tidak mustahil pula dilakukan. Salah satu yang bisa ditempuh dengan memahami relasi jurnalis dan penguasa. Ada ungkapan yang baik soal ini. Jangan terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh.

Terlalu dekat dengan penguasa berdampak pada karya yang dihasilkan. Semisal sang tokoh melakukan pelanggaran, karena kedekatan yang karib, seorang jurnalis akan segan menulisnya. Begitu pula jika terlalu jauh. Ada hal yang biasanya kadang luput diperhatikan. Independen bukan berarti menjauh, tidak pula terlalu dekat.

Hal lain yang bisa ditempuh, pemilik media menyadari kewajibannya memberi pemahaman kepada jurnalisnya. Tidak hanya soal dasar jurnalisme, namun pemahaman profesi secara umum dan menyeluruh.

Istilah belajar sambil jalan yang banyak dipakai media baiknya dihilangkan. Ibarat bayi yang baru lahir, jurnalis baru akan mudah terpengaruh dengan pola lapangan yang sudah ada. Jika hal baik yang mereka dapatkan, maka ia menjadi baik, namun jika sebaliknya, malah akan menambah daftar panjang penyimpangan profesionalisme.  

Bukan berarti seluruh sistem peliputan dan praktik jurnalisme di lapangan sudah rusak. Tapi mencari jurnalis yang baik untuk dijadikan tumpuan belajar sudah semakin sulit.

Pemilik media juga harus dipantau oleh lembaga independen agar mampu mengawasi penyimpangan profesi. Dewan Pers yang berkedudukan terpusat tidak akan mampu menangani seluruh media di Indonesia secara baik. Olehnya itu perlu ada perpanjangan tangan di setiap wilayah.

Organisasi jurnalis juga harus memainkan peran sentral agar sama-sama menumpaskan ketidakpahaman jurnalis atas profesinya. Selayaknya, seorang jurnalis diwajibkan memiliki satu organisasi profesi agar bisa dikategorikan sebagai jurnalis.

Kembali pada pengertian profesi di atas, hal ini menjadi sangat penting.

Artikel ini saya tulis sebagai syarat mengikuti Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) yang digelar Aliansi Jurnalis Independen 2016 lalu. Berbicara tentang profesionalisme dan independensi jurnalis Baca Juga: Jalan Panjang Pers Nasional