Press "Enter" to skip to content

Merasakan Cinta Film Indonesia Berkat HOOQ

Saya bukan kritikus film. Saya hanya pecinta film yang punya standar khusus. Ada banyak alasan mengapa suatu film harus saya tonton. Kualitas dan cerita tentu yang utama. Namun lebih dari satu dekade belakangan, saya sangat jarang menonton film buatan Indonesia.

Bukan tidak pernah, ada beberapa film Indonesia yang juga saya bela-belain untuk nonton. Bahkan harus mengantri berjam-jam di loket bioskop. Salah satunya film ‘Alexandria’ yang rilis di tahun 2005. Film berdurasi 110 menit tersebut cukup populer kala itu.

Dengan menghadirkan Marcel Chandrawinata, Julie Estelle dan Fachri Albar sebagai pelakon utama. Film ini sukses mencuri perhatian remaja Indonesia. Meski banyak orang merasa puas dengan film ini, saya tetap saja kecewa. Saya merasa tidak terpuaskan.

Film yang bagus menurut saya, yang mampu mengganggu perasaan setelah ceritanya berakhir. ‘Alexandria’ bukan tidak bagus. Ceritanya menarik dan realistis. Yang membuat hati saya meradang, penjiwaan para pelakonnya. Masih ada beberapa scene yang belum dijiwai maksimal oleh mereka.

Alasan terbesar saya menonton film ini karena soundtrack-nya. Peterpan yang mengiringi film ini sukses besar dengan album jalur suara. Penjualannya lebih dari 1 juta keping. Itulah alasan mengapa film ‘Alexandria’ banyak digilai remaja Indonesia.

Meski begitu, film ini tetap sukses. Sukses juga membuat saya untuk berpikir dua tiga kali untuk menonton film Indonesia di bioskop. Alhasil, ada banyak film Indonesia yang saya lewatkan pemutarannya. Termasuk film ‘Laskar Pelangi’ yang bertahan hampir 9 tahun sebagai film terlaris sepanjang masa di Indonesia.

Film karya Riri Riza yang rilis tahun 2008 tersebut mengumpulkan total penonton sebanyak 4.719.453 orang. Laskar Pelangi baru tergantikan saat film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! part 1 ditayangkan di tahun 2016. Film garapan Falcon Pictures ini bisa membangkitkan gairah masyarakat Indonesia untuk kembali ke bioskop (data filmindonesia.or.id).

Film ini mengumpulkan total penonton 6.858.616 orang. Saya termasuk dalam data penonton Warkop DKI Reborn. Karena ulasan dan promosi yang gencar, film ini akhirnya memaksa saya untuk ikut mengantri tiket.

Selain karena saya pecinta film Warkop, beberapa teman juga merekomendasikan untuk menonton film ini. Katanya lucu. Tapi hingga film usai, saya lupa pernah tertawa lepas. Malah hal yang lucu dalam film ini saya temukan setelah filmnya berakhir. Meski begitu, secara sinematografi, film ini cukup menarik dan wajar jika mendapat banyak penonton.

Berkenalan dengan HOOQ

Film Warkop DKI Reborn bertahan kurang lebih sebulan di bioskop-bioskop tanah air. Sejak rilis pada September 2016, film ini masih bertahan hingga Oktober. Saya memang sengaja tidak menonton film ini diawal-awal pemutarannya. Takut ngantri terlalu lama sehingga saya memilih menontonnya saat antrian tidak terlalu padat.

Sebelum menonton versi barunya, saya kembali mencari film-film Warkop DKI terdahulu. Selain menyegarkan kembali ingatan film yang dua dari tiga pelakon utamanya telah meninggal dunia tersebut, menonton kembali versi aslinya akan memberi pandangan berbeda saat menyaksikan yang baru.

Mencari film-film lawas Indonesia tentu saja sulit. Kalau pun ada versi originalnya akan cukup mahal untuk kantong orang-orang bergaji minimum seperti saya. Angin segar kemudian muncul setelah awal bulan saya mengisi kembali paket data Telkomsel yang telah habis.

Untuk aktivasi paket data baru di bulan Oktober saya dapat jatah 10 GB untuk aplikasi HOOQ. Awalnya saya tidak paham apa maksud semua itu. Saya juga tidak begitu tahu ada aplikasi nonton streaming bernama HOOQ. Namun saya pelajari lebih jauh dan akhirnya memutuskan untuk menginstalnya lewat App Store milik Google.

Setelah registrasi singkat dan verifikasi nomor telpon, saya bisa juga menonton film lewat mobile. Film pertama yang saya tonton lewat HOOQ adalah film ‘Maju Kena Mundur Kena’ milik Warkop. Selain film yang rilis tahun 1983 ini, ada pula seri lain dari Warkop, seperti ‘Itu Bisa Diatur’, ‘Gantian Dong’ dan ‘Pintar-pintar Bodoh’.

Memang koleksi film Warkop tidak lengkap di aplikasi HOOQ. Namun daftar film Warkop ini sudah bisa membuat kita bernostalgia dengan kenangan masa kecil. Dimana film-film ini hanya diputar di layar kaca saat ada momen-momen tertentu. Semisal libur lebaran atau libur akhir tahun.

Selain film Warkop DKI, saya juga menemukan beberapa film Indonesia yang cukup berkualitas. Lewat aplikasi ini saya bisa menonton ‘Laskar Pelangi’, ‘Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2’, dan film yang menurut saya paling berkualitas buatan anak negeri adalah ‘Cahaya Dari Timur: Beta Maluku’.

Film drama yang diangkat dari kisah nyata tersebut berhasil meraih penghargaan sebagai film terbaik di Festival Film Indonesia tahun 2014. Sudah puluhan film Indonesia yang saya tonton lewat aplikasi HOOQ. Dua diantaranya, yakni ‘Cahaya dari Timur’ dan ‘Filosofi Kopi’ saya tonton lewat destop dengan menyambungkannya ke layar televisi melalui sambungan HDMI.

HOOQ memang bisa dibuka diberbagai platfom, tidak harus melalui mobile. Bahkan jika memiliki smart tv, HOOQ bisa dikoneksikan secara langsung. Sayangnya televisi di rumah belum mendukung hal tersebut, sehingga saya harus menyambungkannya melalui kabel HDMI.

Beberapa film lainnya saya tonton saat sedang kosong. Bahkan film AADC 2 saya tonton saat mengantri di bank. Begitu juga dengan film ‘Surat Dari Praha’ yang saya gunakan untuk membunuh waktu dalam bus saat perjalanan 8 jam keluar daerah.

Film ini sebelumnya sudah saya download terlebih dahulu, sehingga saat ditonton tidak perlu menggunakan data yang terlalu banyak. Cara ini memudahkan untuk menonton film kapan saja dan dimana saja.

HOOQ melegalkan download hingga 5 film secara bersamaan. Tapi jangan dipikir download yang dilegalkan disini bisa dibuka melalui komputer. Film yang didownload hanya bisa diputar melalui aplikasi HOOQ, sehingga tidak ada celah untuk menduplikasikan karya cipta orang lain.

Silahkan tonton video cara menggunakan HOOQ berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=Dr24XsTuv7w

Dengan mobilitas yang tinggi, saya tidak selalu punya waktu diakhir pekan untuk mengantri di loket-loket penjualan tiket bioskop. Alhasil, saya hanya memilih film tertentu untuk ditonton di bioskop. Film-film yang tak sempat saya nikmati di layar lebar akan saya cari melalui HOOQ.

HOOQ memang bukan aplikasi nonton streaming satu-satunya yang saya gunakan. Namun, inilah aplikasi yang menurut saya cukup lengkap daftar filmnya. Apalagi untuk koleksi film Indonesianya cukup banyak. Bukan hanya film, sinetron lawas pun ada di aplikasi ini.

Karena saya melewatkan banyak film Indonesia, maka aplikasi ini cukup membantu mengikuti perkembangan film tanah air. Setidaknya ada perbandingan bahwa 10 tahun terakhir terjadi peningkatan secara kualitas. Film Indonesia bukan lagi menyajikan horor murahan berbalut seks.

Sebagai tambahan, berikut saya rekomendasikan 10 film Indonesia terbaik yang bisa ditonton melalui HOOQ. Penilaian terbaik ini tentu berdasarkan penilaian saya. Tapi jika tak keberatan silahkan tonton sendiri dan nilai, apalah rekomendasi ini tepat atau tidak.

  1. Cahaya Dari Timur: Beta Maluku
  2. Atambua 39 Derajat Celcius
  3. Sang Penari
  4. Surat dari Praha
  5. Sokola Rimba
  6. GIE
  7. Pasir Berbisik
  8. Mata Tertutup
  9. Jamila Dan Sang Presiden
  10.  Eliana Eliana

Masih banyak lagi film Indonesia yang baik untuk ditonton melalui HOOQ. 10 film diatas mungkin masuk kategori film anti mainstream. Saya memang menyukai film-film demikian. Lewat HOOQ kita bisa belajar bagaimana industri film tanah air berkembang. HOOQ menyediakan beberapa kategori untuk film Indonesia, selain Indonesia Hits, ada pula kategori Indonesia Era Lama.

Berikut beberapa daftar kategori film yang tersedia di HOOQ.

Sebagai pecinta film, saya merasa cukup terbantu dengan HOOQ. Cukup dengan Rp49.500 setiap bulannya, saya sudah bisa menikmati berbagai macam tontonan. Yang bisa saya pilih untuk ditonton kapan saja dan dimana saja. Dalam platfom apa saja serta dengan posisi menonton semaunya saja.

HOOQ juga secara tidak langsung membantu penyebaran film Indonesia merata di seluruh penjuru negeri. Saat dimana layar bioskop tidak mencukupi untuk pendistribusian film, HOOQ bisa memberi hiburan berkualitas kepada masyarakat Indonesia bahkan hingga ke pelosok-pelosok.

Jaman memang sedang berubah, dan kita dituntut untuk bijaksana menikmati hiburan. Jika segala sesuatu bisa dilakukan dalam genggaman, mengapa harus susah-susah.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba bercerita HOOQ. Lomba blog ini dimulai sejak 16 Januari 2017 dan akan berakhir di 3 Maret 2017. Untuk info lebih lengkapnya silahkan kunjungi halaman Idblognetwork. Siapapun bisa ikutan dan jadi pemenangnya.