Press "Enter" to skip to content

Mereka Yang Ingin Ibu Kota di Makassar

Saya membaca usulan JK untuk membawa Ibu Kota ke Sulawesi. Parepare, Mamuju dan Makassar masuk opsi. Tapi dua yang pertama gugur karena jalur ring of fire. Lalu Makassar yang katanya lebih siap, sigap dan santun dalam menerima tamu. Tapi tunggu dulu. Makassar bagian mana?.

Ketika Sulawesi Selatan masih dipimpin Syahrul Yasin Limpo 2017 silam, ia memang pernah berkelakar di depan JK perihal ibu kota ini. Namun, Syahrul lebih melirik CPI sebagai alternatif. Proyek pengerukan dan penimbunan laut itu katanya sudah memiliki wisma negara.

Ikut pula Danny Pomanto sebagai Wali Kota yang menyeret hasil kajian tim Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya di tahun yang sama. Kajian pakar Perencanaan Wilayah Kota ITS itu menempatkan Makassar sebagai kandidat terkuat menggeser Palangka Raya.

Ada tiga kriteria umum kata Danny. Salah satu yang ia jual adalah ciri Makassar sebagai archipelago capital city. Lagi-lagi sepertinya melirik kawasan CPI karena tetap mengelukan water front citynya. Apakah itu berarti akan ada penambahan penimbunan jika itu tetap dipaksakan. Mengingat luas CPI hanya 157 hektar, sedangkan rencana Ibu Kota baru membutuhkan 40.000 hektar lahan.

Saya rasa akan sulit memaksakan itu di kawasan CPI. Selain area ini penuh intrik, juga menimbulkan luka dibanyak hati.

Lalu, saat Jokowi berkampanye di Sulawesi Selatan akhir Maret 2019, ia ke Kabupaten Gowa, bertemu warga dan juga Bupati Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Mungkin memang tidak ada kaitannya dengan rencana pemindahan ibu kota baru.

Tapi Gowa punya rencana. Mereka akan memindahkan ibu kotanya ke bagian timur. Tempat bernama Pattalassang. Mereka menyebutnya ‘Proyek Kota Idaman’. Bagian akhir dari cerita ini belum usai bahkan mungkin belum dimulai. Lokasi yang seharusnya disebut ‘Kota Satelit’ ini memang dikenal sebagai segitiga bermuda. Mempertemukan Makassar-Maros dan Gowa tentu saja.

Di kawasan ini memang sedang getol-getolnya pembangunan rumah baru. Baik yang bersubsidi maupun yang tidak. Saya pikir mungkin rencana untuk memindahkan kepadatan penduduk Makassar. Tapi di sana hanya bisa untuk tinggal. Belum ada fasilitas mentereng. Ataukah ini memang strateginya?. Entahlah.

Yang saya tahu, perumahan baru bermunculan di sana -termasuk mungkin milik keluarga JK- tanpa ada progres untuk perbaikan fasilitas transportasi. Ciputra sudah sejak 2014 lalu menancapkan niat membangun Citra Land Galesong City. Lahan seluas 500 hektar itu berisi lapangan golf. Tempat main-main orang berduit. Soal kawasan di sekitarnya, jangan tanya saya siapa yang punya.

Lalu di tengah Makassar, saat ini sedang macet-macetnya karena pembangunan tol dalam kota. Yang katanya akan mengurai kemacetan dan menghubungkan orang Selatan ke Utara lebih cepat. Menuju lebih ke utara ada ‘Proyek Kereta Api’ yang entah kapan benar-benar berfungsi sebagai sepur.

Saya tidak tahu akan kemana semua itu berlabuh. Makassar sedang berdandan tanpa tahu akan tampak seperti apa. Kota ini bersegera melepaskan wajah lamanya menjadi rupa yang baru. Mungkin juga merelakan identitasnya. Lalu sekarang mau pula membawa pekerjaan yang lebih besar. Saya tidak tahu harus setuju atau tidak dengan rencana ini.

Sebagai warga biasa yang setiap hari mengukur kilometer jalanan, saya hanya perlu terang pulang ke rumah. Tidak perlu janji-janji mewah. Cukup tak ada lubang yang mengempeskan ban kendaraan. Saya akan lebih bersyukur jika Palangka Raya jadi tuan rumah. Agar Jakarta tidak benar tenggelam.