Press "Enter" to skip to content

Mudik dalam Ingatan

Sejak sore, saya sudah membayangkan kampung. Melihat orang-orang sibuk mengambil pelepah pisang, mengisi ketupat dan membersihkan makam. Menjelang malam, tungku yang menopang panci-panci besar akan mengepul dari rumah ke rumah. Dan di saat yang sama bau pandan akan membuatmu terlena.

Semua orang sedang bergembira. Memasak sebanyak yang mereka mampu untuk menyambut kerabat esok hari.

Saat iftar terakhir tiba, di rumah sudah akan tersaji banyak makanan. Buras panas lengkap dengan opor ayam. Itu baru sajian pembuka. Esok, sepulang dari salat eid menunya akan bertambah.

My beloved mom selalu tahu anaknya sangat suka palopo’ (beras ketan yang disajikan dengan gula merah, kadang bercampur durian). Oh itu nikmat sekali. Apalagi disuguhkan saat masih hangat. Ketika beras ketannya habis, masih akan ada lopis yang berendam di gula merah. Menjelang siang, biasanya akan keluar tape ketan dan aneka macam es buah.

Karena kediaman orang tua saya cukup dekat dengan makam keluarga besar. Jadi semua kerabat di hari pertama akan hadir. Dari pagi hingga sore kompleks itu akan meriah. Anak-anak kecil dengan bangga berlarian memamerkan baju barunya. Gelak tawa para tetua menambah kemeriahan. Semua saling memaafkan dan berharap makanan di rumahnya bisa habis.

Kampung itu akan selalu merindukan. Bau tanahnya. Pohon kedondongnya. Rumah-rumahnya. Orang-orangnya.

Lebaran kali ini entah bagaimana kondisi di sana. Saya tak pulang. Bukan karena tidak mau, tapi tak bisa. Berada di kota episentrum covid-19, membuat saya khawatir. Bisa saja saya terlihat sehat, tapi menyimpan wabah itu diam-diam. Orang tua saya sudah cukup berumur, dan punya kebiasaan menciumi saya habis-habisan ketika tiba.

Kemarin saya dapat kabar, mereka tetap akan melaksanakan salat eid. Tapi di masjid dekat rumah. Kampung itu punya empat masjid, tapi hanya satu yang selalu dipakai lebaran. Saya tidak berani menanyakan perihal makanan. Apalagi my beloved dad selalu menyembelih ayam peliharaannya ketika saya pulang. Bahkan ketika bukan hari lebaran.

Pernah suatu hari saya menanyakan kenapa selalu potong ayam kalau saya pulang. Ia hanya menjawab, “semua yang saya pelihara memang hanya untuk kamu.” Saya berharap mereka tetap potong ayam kali ini, meski anaknya ini tak pulang.

Sebagai anak semata wayang, saya tahu perasaan mereka ketika yang ditunggu tak kunjung datang. Tapi tubuh yang terpisah jauh begini bukan hanya kami. Banyak anak-anak lain yang juga rindu rumah tak mampu mempersingkat jarak. Kondisi memang begitu sekarang. Meski saya tetap harus menyalahkan mereka yang lalai dengan tugasnya.

Tapi sudahlah.

Lebaran sudah di depan mata. Hanya doa dan maaf yang bisa saya kirimkan. Semoga bumi ini lekas sembuh kembali, biar kita bisa cepat saling memeluk lagi. Seperti kepada my little sunshine, saya sampaikan “suatu hari, setiap hari adalah Sabtu kita.”

Kepada semua kerabat dan kenalan, semoga kita dipertemukan lagi pada salah dan maaf yang lain. Mohon maaf lahir batin.

Eid Mubarak!

View this post on Instagram

Suatu hari, setiap hari adalah sabtu.

A post shared by Ancha Hardiansya (@anchardiansya) on