Press "Enter" to skip to content

Obat Perjalanan

Ini perjalanan yang melelahkan. Bukan karena jauh. Karena saya masih kurang mampu saja untuk jauh dari tempat tidur. Tapi ini adalah pula perjalanan yang menyenangkan.

Sehari sebelumnya. Dalam perjalanan pulang menggunakan kereta malam. Orang-orang melihat dan diam-diam merekam kondisi tubuh saya yang bergetar hebat. Dipikirnya mungkin sejenis orang sakau dan membutuhkan suplemen khusus.

Saya nyaris membatalkan perjalanan ini. Kalau saja tidak ada kompromi memadai yang tubuh ini berikan.

Tapi janji tetaplah janji bukan. Sebaiknya tetap dituruti jika masih punya kesempatan. Tentu saja dengan pertimbangan kesanggupan badan. Meski konsekwensinya, lebih banyak mengistirahatkan pikiran dan pekerjaan yang kacau.

Ya. Jakarta telah mencuri banyak hal dari siapa saja. Termasuk saya. Tapi Jakarta juga memberi banyak hal. Termasuk masa depan kepada siapa saja. Dan masih ada janji yang Jakarta belum tepati.

Salah satu cara keluar dari keperpurukan adalah melupakan. Orang yang patah hati karena ditelikung teman, jangan dipikirkan. Orang yang meradang karena sakit tenggorokan, jangan dibiarkan. Diobati lalu anggap bukan sebagai beban. Sepanjang hidup saya menjalankan ini.

Dan penjalanan ini juga jadi obat yang ampuh. Dari kereta menuju bandara hingga di pesawat dekat jendela sampai akhirnya bertemu Eviera Paramita Sandi di bandara. Semua bersekutu menghilangkan pikiran, bahwa kemarin untuk duduk saja sungguh sulit.

Saya dan Eviera Paramita Sandi di Mataram

Apalagi saat tiba di Gedung Putih Islamic Center Mataram. Bertemu dengan satu, jadi tiga jadi puluhan orang mahasiswa dan jurnalis setempat. Dari jam pertama hingga 240 menit kemudian. Lalu lanjut malamnya bersantai dengan secangkir Kopi Sembalun dengan mereka yang tahu banyak soal Mataram.

Sungguh obat yang jauh lebih ampuh dari berselang-selang inpus rumah sakit. Sesaat, saya benar-benar lupa kalau mendung yang merundung Jakarta adalah kebohongan semata. Polusi bisa berkamuflase jadi apa saja.

Hingga akhirnya sebelum mendarat hari ini, Cabin Crew Citilink berkata:

“Buat warga pendatang, selamat datang di Jakarta, buat warga Jakarta, selamat datang di kenyataan.”

Yes. Welcome back to reality. Tapi kali ini dengan amunisi yang lebih banyak. Kepala yang lebih segar dengan segudang cerita dan kesan yang mendalam. Dan yang pasti tidak mudah lagi percaya pada langit yang mendung.


Btw, apa yang saya sampaikan di atas tidak penting. Saya hanya mau bilang terima kasih buat teman-teman di AJI Mataram. Buat Kaka Pikong Fitri Rachmawati Pikong dan Bang Abdul Latif Apriaman yang mengajak ngopi di tengah sibuknya mengasuh sanggar. Serta Ketua AJI Mataram Kaka Sirtu Maulana dan Bang Haris AL Kindi. Serta semua teman-teman di sana.
Semoga bisa berjumpa lagi. 🙂

Terima kasih terakhir terwakilkan pada backdrop di belakang saya itu. Sip ya. Dan sampai jumpa di Purwokerto pekan depan. #eh