Press "Enter" to skip to content

Pagi Masih Akan Datang

Bukan hari yang berganti nama ku sedihkan. Tidak senja yang kurang ajar menggantungkan rindu tapi tak pernah memuaskan. Bahkan gelap yang menakutkan anak kecil di jumat keramat pun tak pernah salah. 

Kau selalu datang dan berkata “pagi masih akan datang.” Ketika itu berulang, kau pergi bersama gelap semalam. Betapa bajingan dan penghianatnya kamu. Meletakkan api di tanganku lalu berjalan memasuki inai. 

Aku tak pernah lupa ketika tanganku kau tarik paksa melewati horison. Tempat kau berdiri sendiri dan melihat ku kecil. “Langit tak pernah punya kaki, tapi kita bisa berjalan bak sepasang kekasih,” bibir tipis bergincu merahmu meracau di telingaku. 

Dalam semalam kita jatuh. Membuat Adam menyesali Hawa atas segala hal yang lampau. Bau cyclamen yang dilepaskan pori-pori tubuhmu menyihirku dengan rela. Aku seperti patung yang selalu menunggu tuannya saat jarimu menyentuh ragaku. Tapi aku menolak menyesal. Karena kita berdua pelakonnya. 

Pernah kau berjanji mengembalikan yang kau sita. Tapi itu omong kosong. Karena butiran garam dalam kuah panas telah hilang. 

Mungkin memang aku yang salah. Mungkin juga waktu yang berdosa. Abu akan selalu meleburkan dirinya bersama angin. Tapi aku belum siap menjadi angin yang hanya bisa membawamu pergi, tanpa bisa menjadimu seutuhnya.

Kita seperti air dan gelas, tidak akan pernah sama meski saling membutuhkan. Benar, kamulah penghianat ulung yang pernah diciptakan sejarah. Kau mengatakan itu setelah kau mengajari mengikat tali, dan meninggalkan ku menjaganya sepanjang waktu. Semoga harimu menyenangkan dan pohon itu jatuh menjadikanmu debu.   

Aku di sini dan jangan berani kau tertawa. 

***

Bunga myrtle itu berayun indah bersama gaun putihmu. Renda appliques yang menutupi rahasia keindahanmu, jadi sempurna ketika kau berjalan menuju altar. Hari ini, semesta seperti setuju dengan langkah kita. Atau tepatnya langkah mereka. 

Aku tahu ini salah. Tapi mulutku lebih kurang ajar untuk berkata tidak. Ada terlalu banyak hati yang berduka. Dan aku memilih biar aku yang sakit. Kamu perempuan yang baik. Tapi tak cukup membuatku mencintaimu.  

“Aku Sophia, bersedia jadi istrimu,” seketika yang ku lihat gelombang besar yang menghantam seluruh daratan. 

Yang ku lakukan hanyalah menghabiskan malam menyebut Maria setengah mabuk. Sangat menyakitkan ketika pagi wajahmu tetap tersenyum. Padahal tak pernah ada kamu di sana. Hatimu terlalu lembut untuk jadi berlian. Atau pendosa ini telah menemukan harta paling berharga di seluruh semesta. 

Aku tahu kamu tahu. Kamu hanya tak peduli. Tak ingin pulang sekedar melihat apa yang terjadi antara aku dan kamu. “Pagi akan selalu datang,” kata itu keluar juga dari mulutmu. Menjadikan aku jadi pendosa paling hakiki.  

Kau tahu, yang paling menyakitkan melihat api menjilat atap dan kamu tidak bergerak sekedar menghindarinya. Kau membiarkan dirimu terbakar dan menyisakan nama di belakang benihku. Aku belajar keras untuk jadi penghianat. Tapi Benny adalah malaikat yang jadi tali untuk kita. 

Mengapa gelas emas yang kau bawa kian berkilau. Tapi tak sedikitpun aku tergoda. Aku tak berhak menyalahkan langit yang menurunkan hujan. Atau pagi yang menyebarkan basah di rumput-rumput depan rumah. Aku hanya tak tahu dan tak berhak menanyakanmu. 

Jalanku selalu menemukan persimpangan. Suatu ketika sengaja aku menyesatkan diri. Berharap tak lagi menemukan jalan pulang. Seperti yang kau tahu, aku itu air, tidak pernah benar-benar berhenti di satu sumur. Lalu Benny menarik talinya dan aku melihatmu tersenyum kembali di pagi yang cerah. 

Kau adalah sipir yang paling taat. Pada mulanya aku tahu tapi kian tak kuasa aku melawanmu. Siapa penjahat itu sesungguhnya?. 

***

Di langit aku bertemu Maria. Ia masih sama. Tubuhnya tetap seharum cyclamen. Rambutnya sehitam sotong. Dan gincu di bibirnya tak pernah pudar. Persis ketika terakhir aku melihatnya.

Tapi entah apa yang salah. Ia tak mengeluarkan suara. Tak ku temukan senyum di wajahnya. Tak jua ia ceria seperti sedia kala. Mungkin ia kecewa kini aku telah berambut putih. Perutku lebih mancung dari hidung. Dan suaraku bergetar hebat tiap kata yang terucap.

Aku terus membujuknya. Ku ceritakan lagi senja yang sama tak lagi sama tanpa dia. Tetap tak ada suara. 

“Aku sekarang punya Benny,” kataku sambil ikut duduk di sampingnya melihat awan putih yang banyak. Ia menoleh. Matanya menyemburkan guratan penyesalan di sana. Tapi bukan Maria jika harus menyesal. Ia tetaplah penjahat yang lihai.

Seperti yang kau tahu, Benny adalah tali. Ia mengikat sepatu. Ia menarik aku pulang. Ia pula yang menautkan aku dan Sophia. Aku tak pernah terima saat kau pergi. Saat hari yang harusnya jadi kita menjelma petaka. Tapi Benny yang membuatku tegar berdiri. 

Suatu petang yang kering, Benny datang membawa Marianya. Petir menyambar cepat di mataku. Aku melihatmu di sana. Tapi ini curang, karena itu bukan kamu. Sejak itu soreku tak pernah lagi sama. Sepanjang waktu aku berdamai tanpamu. Tapi Benny. Jangan dia yang melanjutkan sisi jahat diriku.

“Aku ada di dalamnya,” persis yang ku ucapkan kepadamu yang membuat semesta murka. Dan kini Benny yang melakukannya. 

Ia memang selalu jadi tali. Karena sekarang ia mempertemukan kita. Di sini, duduk tanpa risau pagi baru akan datang. Yang ku syukuri, ia tak sepenuhnya jadi pendosa. Karena tak menanam tubuhmu dalam bingkai lalu memajangnya di tengah rumah.  

***

Kau tahu yang selalu kutakutkan. Semua ini terang. Bahwa bukan aku di dalammu. Dan aku hanyalah serpihan kecil dari kaca yang kau butuhkan membentuk gelas. Aku selalu menolak mengakui kita hanya biji kopi dan air. 

Aku akan selalu jadi air dan kamu bijinya. Apapun tuan inginkan, selalu ada racikan yang baru. Kamu bisa jadi latte, capuccino atau americano. Sama seperti tetesan air lain, aku hanya mampu mendampingimu. Menjadikanmu ada tapi tak pernah jadi kamu. Kopi akan terus melekat, seberapa banyak pun air yang membasuh. 

Malam ketika kau menarik tanganku melewati horison, tidakkah kau tahu, aku masih bercelana putih yang belum sekalipun dipakai bermain lumpur. Kau di sana memberinya lumpur lalu merobeknya. Lumpurnya seperti kesumba yang tak mau pergi meski begitu banyak cairan pemutih yang menyerbu. 

Sekarang aku tahu, dari awal pun sebenarnya tahu. Aku si bajingan yang coba-coba, tapi kau melukainya. 

Katakan, sudah berapa aku yang duduk bersamamu?. Melihat awan putih yang tak lagi mendatangi pagi. Apakah aku pernah benar-benar ada. Atau seperti katamu, “langit tak pernah punya kaki, tapi kita bisa berjalan bak sepasang kekasih.” 

Kau memang bajingan sampai sekarang. Berkat dirimu aku selalu menolak senyum yang tiap pagi datang. Semoga pohon yang roboh itu tak hanya menjadikanmu debu, tapi hilang tak bernama.