Press "Enter" to skip to content

Penyiksa Penyaksi

Kau kurung kami dalam gelap
Hingga pikiran kami kalap
Dalam gelap kau siksa kami begitu keras
Dengan sepatumu yang mengeras

Kau paksa kami untuk duduk
Menunduk
Membungkuk seperti katak
Tapi kau salah
Karena kami memilih tegak
Meski darah telah kau teteskan
Di kepala
Di jidat
Di bibir
Lalu akhirnya kau tendang pantat

Sungguh…
Kau adalah penyiksa
Menindas sudah tanpa batas

***

Wahai…
Orang-orang penyiksa
Yang hanya tahu menindas dalam selokan
Lalu keluar katanya pemenang pergulatan
Janganlah kau membabi buta
Babi buta pun tak suka menyiksa-nyiksa

Ingat….
Angin selalu membawa bau busuk
Bayi gelap dalam rahim. Rumput dan lumut jalan raya
Pada akhirnya tak bisa kau abaikan
Baunya selalu tiba dihidung kami

Kami ini hanya panyaksi
Jadi, usah kau angkat senjata sebagai saksi
Cukup tinta ini sebagai tameng besi
Mengikat sumpahmu yang ingkar janji

Mana…
Mana orang-orangmu yang katanya pelindung itu
Mengapa mereka injak kami?
Menginjak tenggorokan para pejuang kebebasan
Tak ibah sedikit pun mendengar tangisan perempuan muda
Kau tembakkan gas air mata
Ke dalam ruang-ruang yang berjuang demi pendidikan
Kau penyiksa
Sungguh…
Sudah di luar batas

***

Wahai wajah malam yang turun menanti
Bersaksi, atas nama lelaki berlumur comberan hitam sotong
Apa yang bisa ku ucapkan oleh bibir yang terjajah ini?
Melihat kedua tangan mereka mendekap adil
Memeluk bumi dan menghianati-Mu,
Tuhanku.

**) Puisi ini saya tulis dan dedikasikan buat teman-teman yang terlibat dalam tragedi 13 November 2014 lalu di UNM. Buat mereka yang telah berdarah dan dirampas hak-haknya. Buat mahasiswa yang tak tahu apa-apa dan menjadi bulan-bulanan mereka yang katanya pelindung.