Press "Enter" to skip to content

Pertemuan Kedai Kopi

700 meter dari rumah dinas Wakil Presiden Indonesia, saya terlibat pembicaraan maha serius dengan Almaliki. Kami bicara soal masa depan. Soal sukses itu seperti apa dan bagaimana saling menopang dalam perjalanan.

Orang-orang di tempat itu sepertinya juga sedang serius membicarakan masa depan. Sepintas lalu, kuping kanan saya menangkap pembahasan restu dari sepasang kekasih. Tentang respect satu dan lainnya. Dan bahkan perdebatan tentang warna gaun. Selisih kecil yang penuh aura bahagia.

Sepuluh langkah di depan kami. Di sebuah sudut yang separuhnya terhalang meja barista, dua ekspatriat menyelesaikan akhir pekan dengan sekelumit pekerjaan. Salah satu dari mereka memegang iPad sambil mulut komat-kamit menjelaskan diagram. Entah bisnis apa yang sedang mereka pertaruhkan.

Kedai kopi sore itu memang sedang penuh. Semua sibuk dengan bahasannya. Saya pun sebelum berdua, sibuk menamatkan dua film di Netflix. The King dan The Big Short. Dua film yang membahas tentang orang lain. Tentang dunia dan kekuasaan.

Selepas hari berganti gelap, saya meninggalkan Almaliki sejenak. Ke teras depan memperpanjang umur. Menghirup sebatang dua batang tembakau. Sampai seseorang yang kemarin saya temui di The Atjeh Connection turun dari motor.

“Eh kok bisa ada di sini,” saya menyambar.

Kami sebenarnya memang mengatur janji malam itu. Di dekat Taman Raden Saleh yang sejak tahun 1968 lebih dikenal sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM). Tapi ia belum ada kabar, karena teman yang satunya juga belum ada kabar. Belakangan baru jelas, karena ia sedang tirah baring.

“Saya janjian dengan Bang Arfan di sini. Ambong belum ada kabar,” kata Andi.

Andi (Hariandi Hafid) sedang di Jakarta untuk sebuah perhelatan. Dua fotonya menang di Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2019. Kami pernah satu kantor di masa-masa awal jadi jurnalis. Lalu berpisah dan bersama lagi untuk beberapa proyek penulisan. Hingga akhirnya saya migrasi ke ibu kota.

Sementara Ambong yang kita nanti-nanti bertemu di Cikini adalah mantan foto jurnalis Tempo. Lengkapnya Ayu Ambong yang kini memilih jalur korporasi swasta. Sedangkan Arfan yang hendak ditemui adalah penulis buku, film maker sekaligus pendiri Rumah Ide.

Saya hanya tahu namanya Arfan Sabran, tapi belum pernah bertemu orangnya. Malam itu akhirnya jadi ajang kenal-kenalan. Ia cukup banyak membuat film dokumenter. Terbaru dan saat itu ia hadir untuk pementasan filmnya ‘Suster Apung’ di TIM. Novel dengan judul yang sama juga telah dijual di toko buku.

Bang Arfan duduk sebaris dengan dua ekspatriat yang tadi saya ceritakan. Ia terhalang meja barista dan hanya sepuluh langkah dari tempat saya duduk.

Andai tak ada Andi. Mungkin kami tak akan saling cerita. Soal foto-foto yang memukau. Tentang film dokumenter. Mengenal sedikit tekniknya. Bahkan sampai menyerempet ke budaya dan bagaimana semua dibicarakan.

Dari kemunculan Andi yang tak disangka-sangka, menjadikan kami akhirnya satu meja. Sampai kemudian saya masuk dalam frame foto orang-orang hebat di belakang itu. Tentu dengan tiga cangkir kopi yang saya habiskan.

Thank to the night and destiny!

Malam di Jakarta pada 8 Desember 2019