Press "Enter" to skip to content

Pesan Misterius di Selembar Tisu

Sehari setelah pindah dari Walet Mas Hotel ke d’Maleo Hotel, saya dapat pesan misterius yang ditulis pada selembar tisu. Pesan itu sengaja ditinggal di atas meja dekat laptop saya berada. Akan cukup mudah mengetahuinya saat masuk ke kamar.

Oh iya. d’Maleo Hotel jauh lebih baik dari Walet Mas. Benar kata Makmur, hotel ini punya lift sehingga saya tak harus berpeluh payah naik ke lantai tiga, dimana saya diletakkan. Kamar hotelnya juga besar dan kebetulan saya dapat pemandangan menuju laut.

Baca Tulisan Sebelumnya : Finding Hotel di Bumi Manakarra

Sangat mudah memandangi Pulau Karampuang dari tempat saya bermalam. Meski tidak punya balkon dan jendelanya yang hanya bisa dibuka separuh, mereka punya kemewahannya sendiri. Dari kamar, saya juga bisa melihat orang yang lalulalang ke Warung Ba’go, salah satu restoran milik hotel.

Gambar ini diambil dari kamar saya menginap. Di sudut itu ada Warung Ba’go, kelapa mudanya enak dan segar 🙂

Hari kami pindah ke hotel ini, saya dan Bang Syaful sempat makan di Warung Ba’go. Karena lapar yang sudah diubun-ubun, kami kompak memesan ayam kampung goreng, dengan sambal rica-rica dan air kepala sebagai pelepas dahaga. Total yang harus kami bayar kala itu Rp180.000 untuk berdua.

Itu harga yang sepadan, meski tetap saja mahal buat saya. Untuk sepotong ayam goreng di luar hotel bisa didapat hanya dengan membayar kurang Rp50.000. Tapi kan ini hotel, apa-apa pastilah mahal. Jadi kami tak mau mengeluh, hanya memilih untuk tidak lagi makan di tempat itu.

Selain Warung Ba’go, d’Maleo Hotel juga punya Sandeq Restaurant dan Lepa-lepa Pizza & Ice Cream. Lokasinya ada di lantai satu dan dua hotel. Di Sandeq Restaurant sabang pagi selalu ramai, karena jadi tempat untuk sarapan. Di tempat ini bercampur semua rasa, bahkan perokok pun digabung jadi satu.

Untuk yang suka pijat, hotel ini menyediakan pula Spa 37. Studio 37 untuk yang senang menyanyi serta Club 37 yang kegirangan jingkrak-jingkrak. Entah apa maksud angka 37 di setiap nama tempat itu, saya juga tidak sempat menanyakan ke pegawai hotel.

Meski mendiami kawasan reklamasi dan berhadapan langsung dengan laut, d’Maleo Hotel juga menyediakan waterpark di sisi kirinya. Terbuka untuk umum dan tersedia satu kolam renang dengan beberapa seluncuran kecil yang mengelilingi.

Sore hari, setelah pulang dari bertemu beberapa orang, saya hendak menarik uang di ATM Center tepat di pintu masuk hotel. Ada empat bank yang menyediakan mesin di tempat itu. Tidak ada BCA, karena sampai berdarah-darah pun mencarinya di Mamuju kamu tak akan ketemu.

Kebetulan sedang banyak orang yang mengantri di tempat itu. Namun satu persatu keluar dengan wajah mengkerut. Saya pun dapat giliran dan keluar dengan wajah yang sama. Tidak satupun mesin-mesin itu mengeluarkan uang. Semua kosong atau sedang ada masalah jaringan saat itu.

Saya berjalan dan berdiri di troroar depan hotel. Menerawang, kalau-kalau ada mesin ATM yang dekat dari sana. Baru beberapa detik berdiri seseorang menyapa dari belakang.

“Mau menarik (uang), pak?,” kata suara itu.

Saya pun berbalik dan mengiyakan, sembari bertanya apa ada ATM yang bisa didatangi tidak jauh dari sana. Pemuda bertinggi badan 165 itu pun menunjuk satu lokasi dan menyebut nama jalannya. Sayangnya, saya tidak tahu itu dimana.

Setelah bertanya apakah saya tamu hotel, ia menawarkan untuk pergi bersama ke ATM yang dimaksud. Saya pun tak pikir panjang. Naik ke motor Honda miliknya dan melesat memecah sore yang sedikit lagi jadi malam. Jalanan lebar dengan sedikit kendaraan membuat perjalanan tanpa kendala.

Dalam perjalanan itu pemuda 20-an tahun itu bercerita kalau ia kerja di d’Maleo. Posisinya sebagai roomboy. Tapi kalau malam hari ia biasa dipekerjakan di Club 37 sebagai waiters. Meski rangkap jabatan, gajinya tetap satu.

“Ini saja sudah syukur pak, saya dulu susah payah cari kerja. Baru beberapa bulan ini naik jabatan jadi roomboy, sebelumnya hanya cleaning service,” katanya.

Kebetulan ia bercerita, saya pun menanyakan siapa yang bertugas di lantai tiga. Karena saat masuk ke kamar hari ini ada pesan yang ditinggal di selembar tisu. Ia menyebut nama, namun memastikan bukan dirinya.

“Saya di lantai lima,” tuturnya menegaskan lokasi dia bekerja hari ini.

Setelah tiba di ATM yang dituju dan mempersilahkan saya masuk duluan, kami balik ke hotel setelah urusannya dengan mesin pencetak uang itu selesai. Ia kemudian bertanya, pesan apa yang saya terima. Saya pun menceritakan soal nomor telpon yang ditulis di selembar tisu.

Nomor telpon yang ditinggalkan roomboy di d’Maleo Hotel. Entah apa maksudnya

Bahkan saya ceritakan, kalau yang menitip pesan terlihat ragu menulis nomornya sendiri. Karena ada satu nomor yang dimulai namun kemudian dicoret. Nomor telpon tanpa embel-embel informasi lain itu pun sempat saya hubungi. Tapi tak satupun yang menyahut di ujung sana.

Si pemuda berkulit eksotis itu hanya tersenyum mendengar cerita saya. Seakan hal seperti itu sudah biasa.

Meski begitu, tak ada jawaban memuaskan yang ia berikan tentang nomor tersebut. Sebagai orang yang banyak berurusan dengan beragam pihak, tentu pesan nomor telpon yang sengaja diletakkan punya serangkaian makna. Bisa jadi itu bentuk ancaman. Tapi setelah mengecek daftar kontak, tak ada nomor tersebut yang tersimpan di gadget saya.

Bahkan saya menggunakan aplikasi Truecaller untuk mengecek nomor tesebut. Hasilnya tentu saja nihil. Selain saya tahu bahwa itu nomor dari Telkomsel, tak ada informasi lain yang disajikan.

Saya pun tertuju pada dugaan lain. Sesuatu yang mungkin akan direspon oleh orang-orang. Tapi toh, nomor telpon itu tak bisa pula dihubungi.

Sebelum berpisah dan berhasil mengantar saya kembali ke hotel, si pemuda yang mengaku bukan asli Mamuju itu hanya berpesan agar pesan itu diabaikan. Itu hanya bentuk keisengan roomboy. Mungkin semacam hiburan setelah melihat semua benda-benda milik tamu.

Tapi tetap saja, pesan pada selembar tisu sesuatu yang baru bagi saya. Sudah puluhan kamar hotel yang saya tempati dan belum ada yang senekat d’Maleo meninggalkan jejak. Meski begitu, saya memilih tidak melaporkan kejadian itu ke manajemen hotel.

Saya takut, atas apa yang saya lakukan malah membuat seseorang yang entah bagaimana bentuknya akan mendapat masalah. Toh, contoh semisal pemuda yang mengantar saya ke ATM bisa jadi banyak. Kota kecil seperti Mamuju tidak mudah mendapat kerja. Saya tak ingin jadi pembuat masalah, lagi pula tak ada yang dirugikan bagi saya atas peristiwa itu.

Hanya saja, buat kamu yang meninggalkan nomor telpon di selembar tisu itu, kalau bisa jangan nomor yang tak bisa dihubungilah. Atau kalau memang hendak kenalan lalu berakhir dengan menawarkan barang dagangan, mungkin kartu nama jauh lebih baik. Selain terlihat sopan, juga jauh lebih profesional dari selembar tisu, dicoret pula.

Iyakan!