Press "Enter" to skip to content

Roma: Rupa Kebrengsekan Lelaki

“Apapun yang mereka katakan, kita wanita selalu sendirian.”

Kata Sofía kepada Cleo yang menunggunya di depan pintu sambil memegang kedua pipinya dengan gemes. Ia lantas berjalan masuk rumah dengan sempoyongan dan meninggalkan Cleo tetap tanpa ekspresi. Cleo hanya mengusap perut buncitnya. Seakan memberi tanda, anaknya akan lahir tanpa ayah.

Sofía dan Cleo adalah majikan dan asisten rumah tangga. Mereka hidup di Meksiko dekade 1970-an. Sutradara Alfonso Cuarón menggambarkan kisah itu dalam film ‘Roma’ rilisan 2018. Keduanya adalah korban kebrengsekan lelaki. Begitu benang merah film yang berhasil membawa Best Foreign Language Film di ajang Golden Globe Awards ke-76 ini.

Sofía yang diperankan Marina de Tavira jadi pesakitan setelah ditinggal selingkuh suaminya Sr. Antonio (Fernando Grediaga). Ia berpaling dengan alasan yang tak jelas. Pergi bersama seorang perempuan yang lebih muda dan energik.

Sayangnya, kepergian Antonio tidak meninggalkan apa-apa. Sementara Sofía adalah ibu rumah tangga yang sengaja memilih itu demi membesarkan anak-anaknya. Dalam keadaan serba sulit, Antonio kembali merencanakan mengambil seluruh harta miliknya kecuali rumah.

Mereka punya empat anak yang semuanya ia tinggalkan bersama Sofía. Ia memang tak ingin menyerahkan satu pun kepada Antonio.  

Dalam keadaan pelik sang majikan. Cleo (Yalitza Aparicio) sang asisten rumah tangga juga ditimpa nasib yang tak kalah menyedihkan. Kisah Cleo lebih tragis dan merontokkan jiwa-jiwa. Itulah alasan mengapa Alfonso Cuarón menjadikan tokoh Cleo sebagai objek utama ceritanya.

Ia hamil dari pacarnya Fermín (Jorge Antonio Guerrero) yang kemudian pergi meninggalkannya. Sekuat apapun Cleo berusaha meyakinkan hubungan mereka, Fermín selalu menampakkan wajah kebengisan laki-laki bejat. Ia tak mau mengakui dan tak ingin melihat Cleo lagi.

Hingga suatu ketika, bentrok berdarah terjadi di Kota Meksiko. Keduanya dipertemukan dalam kondisi yang tak menyenangkan. Disaat yang sama, air benih rahimnya pecah dan kota dilanda huru-hara. Lebih menguras energi melihat ibu hamil terjebak dalam kengerian dan kemacetan.

Alfonso Cuarón sangat cerdik memainkan perasaan dalam film ini. Bagaimana rasa sakit ia lukiskan meski hanya dari diamnya seorang wanita. Dan saya menaruh hormat kepada Yalitza Aparicio yang lebih dari berhasil memerankan Cleo.

Perbedaan ras antara majikan dan bawahan jadi rupa kesekian yang ingin disentil dalam film ini. Belum lagi soal strata sosial, keluarga kelas menengah versus kelas paling bawah. Meski sama-sama akan jadi ibu tunggal, tapi irisannya cukup tebal.

Dibuat dalam format digital hitam putih 65mm, film ini tetap membawa nuansa intim. Teknik panning yang banyak dilakukan Alfonso menggiring kita lebih dalam mengenali setiap gerakan. Setiap ekspresi dan banyak detail. Saya melihat keseriusan dan ketajaman sejarah dalam film berdurasi 2 jam 15 menit tersebut.

Ceritanya memang berjalan lambat. Tapi sangat berhasil membawa kita lebih dalam merasakan film. Bagaimana rutinitas Cleo digambarkan setiap hari. Bangun tidur, membersihkan tai anjing, membuat sarapan, mengantar anak majikannya ke sekolah dan jadi yang paling akhir menutup mata setiap waktu.

Semua bertambah berat ketika ia hamil dan keluarganya tak ingin ia bebankan. Lahir dari keluarga miskin dengan pendidikan seadanya. Cleo sangat mudah jatuh ke bujuk rayu laki-laki. Ia hanya punya cinta dan tenaga untuk mengisi hari-harinya.

Film ini bagi saya sangat berhasil. Cukup berhasil membuat mata berair dan jengkel dengan cara yang baik. Tidak hanya itu, kebaruan cerita yang disajikan meski bersifat lokal (dialog dibuat dalam dua versi Spanish dan Mixteco) tapi relevan untuk masyarakat global.

Saya sangat menyarankan para pecinta drama semi-otobiografi untuk menonton cerita kasih sayang yang mendalam ini. Tidak akan mengecewakan. Tapi nontonlah ketika dalam keadaan tenang. Film ini tak bisa dinikmati jika kurang konsentrasi.

ROMA | Official Trailer [HD] | Netflix

Poin 9.5/10