Press "Enter" to skip to content

Terjebak Bersama ‘Lean on Pete’

“Saya tidak punya tempat lain untuk pergi. Dan.. ketika kau tidak punya tempat lain, kau agak terjebak.”

Begitulah balasan Laurie (Teyah Hartley) ketika ditanya oleh Charlie Plummer yang memerankan tokoh Charley dalam film ‘Lean on Pete’. Ia disergap tanya mengapa diam saja ketika ia dilecehkan secara verbal oleh Mr. Kendall, kakeknya sendiri.

Ia disebut kian gemuk bahkan untuk naik tangga pun tak sanggup. Mukanya juga bertambah jelek. Beragam ejekan lain sering di tujukan ke Laurie yang bukan tanpa perlawanan. Namun tak sanggup menepis dan tetap bertahan bersama sang kakek. Karena seperti katanya, “ia agak terjebak.”

Film rilisan 2018 ini menjadi semacam perayaan ketidakberdayaan. Ada banyak kebetulan sama yang digambarkan. Ada pedih yang sulit diucap. Namun perlahan mengiris hati karena kisah yang terlalu dekat dengan banyak jiwa.

Charley yang berdiri sebagai tokoh utama terjebak diposisinya. Remaja 15 tahun ini harus hidup serba kekurangan dengan seorang ayah yang tak berdaya melawan ganasnya kehidupan. Ia pula tak mengenal sosok ibu yang pergi sejak ia baru saja lahir.

Kisah Charley kian merana tak kala Ray (Travis Fimmel), ayahnya meninggal dalam kesendiriannya di Rumah Sakit. Sementara ia tak mau ditampung layanan sosial pemerintah.

Pertemuanya dengan Lean on Pete, seekor kuda pacuan tua yang tak lagi mampu diandalkan menjadi pelipur lara. Oleh sang pemilik, Pete dijual untuk dibuang ke dalam perut. Melihat nasib yang sama menimpanya, mereka membangun siasat. Tentu semua dikendalikan oleh Charley.

Film ini bukan semata tentang persahabatan manusia dan binatang. Tapi pertemuan keduanya yang sama-sama terdesak. Menyaksikan ‘Lean on Pete’, saya teringat kepedihan dan ketidakberdayaan Biru Laut dalam novel ‘Laut Bercerita.’ Meski latar dan alur ceritanya jauh berbeda. Keduanya sama-sama menyajikan perih.

Ada ruang kosong yang mampu diisi ‘Lean on Pete’ yang membuat saya merasa ini luar biasa. Bahwa ketika kemalangan menimpa jangan menyerah. Jangan mengemis. Jangan putus harapan. Meski lamban tetap harus merawat keyakinan dan kewarasan. Itu jauh lebih penting.

Debut Charlie Plummer dalam film ini mampu menerjemahkan seluruh hal dalam porsi yang pas. Bagian akhir ceritanya bahkan merontokkan raga dan segala kekokohannya. Bukan mau berlebihan tapi suara Bonnie Prince Billy yang menyanyikan ‘The World’s Greatest’ dalam versi Country menjadi sempurna.

Sangat sulit menjelaskan seluruhnya. Tapi saya yakin setiap orang akan punya kesimpulannya sendiri melihat film ini. Bagi saya, ‘Lean on Pete’ masuk dalam daftar film keren dan terbaik sepanjang 2018. Patut untuk dinikmati.

1-10 : 8.2