Press "Enter" to skip to content

Tiga Tahun Melihat AJI dari Dalam

Saya pernah berdiskusi panjang dengan seseorang. Tentang takdir. Tentang apa yang akan terjadi kedepan. Bahwa tidak selamanya manusia hanya menunggu. Terkadang langkah kecil yang kita lakukan hari ini mencatat hal lain di kemudian hari.

Saya tahu, ada banyak yang tidak setuju dengan itu. Mereka mengatakan, takdir itu sudah ditentukan dan tidak akan berubah. Saya juga percaya ada yang begitu, tapi tidak untuk yang kita jalani. Manusia menyelesaikan hidupnya sendiri agar kelak bisa dipertanggungjawabkan.

Tuhan telah membekali kita dengan akal pikiran. Agar bisa memilih. Ke kanan atau ke kiri. Nabi dan Rasul hadir untuk menerangkan, ke arah mana seharusnya kaki melangkah. Tapi pilihan, tetap kembali pada kita. Manusia.

Tiga tahun lalu saya menempatkan diri di persimpangan. Tentu tidak kanan dan kiri saja. Ada banyak jalan yang terbuka. Tapi saya memilih satu jalur yang kemudian membawa petualangan seru. Maju sebagai Sekretaris Umum AJI Makassar bersama Agam Qodri Sofyan.

Bukan tak punya gambaran sama sekali. Sebaliknya. Berkumpul dengan orang-orang kritis. Dengan pola pikir yang liar. Kreatif. Dan yang paling utama, ingin sama-sama menjaga independensi. Jadi jalan yang menurut saya menyenangkan. Karena ada banyak hal yang bisa saya ambil untuk kembali memilih masa depan.

Sebagai jurnalis, di AJI, saya harus menyelam lebih dalam. Berpikir tidak hanya tentang apa yang selanjutnya saya tulis. Tapi bagaimana teman-teman yang lain bisa bertahan. Media tidak hilang kepercayaan. Masyarakat tahu kemana harus menyandarkan harapan. Dan berbagi perspektif akan banyak hal ke banyak pihak.

Tiga tahun saya telah berusaha. Kami telah berusaha. Saya tidak bisa menyimpulkan. Berhasil atau tidak yang kami lakukan. Silahkan memberi nilai sendiri-sendiri.

Bagi saya pribadi. AJI adalah rumah yang baik untuk semua. Memang belum sempurna. Tapi ada harapan besar di sana. Memilih jalan sepi kelihatannya tidak menyenangkan. Tapi percayalah, jika sepenuh hati kau mencurahkan upaya juga akan bermuara pada kenikmatan.

Sekarang saya kembali di persimpangan. 24 Maret ini apa yang saya pilih tiga tahun lalu akan ditanggalkan. Saya hanya ingin berterima kasih kepada semuanya. Sekaligus memohon maaf kepada semuanya. Jika ada hal kurang laik yang pernah saya lakukan tiga tahun bekalangan.

Siapapun yang akan menahkodai AJI Makassar tiga tahun kedepan. Saya berdiri bersama kalian. Tentu dengan batasan-batasan yang wajar. Saya hanya meminta, tetap jadikan AJI sebagai rumah yang nyaman untuk semua. Kritis, independen dan terus mengedukasi.

Terima Kasih