Press "Enter" to skip to content

Tombak Yang Bebas

Hari ini saya merencanakan banyak tulisan. Sudah merangka, tapi tak kunjung usai. Tema besar yang tentu saja sedang dibicarakan masuk list. Hari Buruh. Sudah mengeker tempat yang layak untuk mengirimnya. Tapi semua jadi teralihkan begitu saja.

Begini ceritanya.

Pagi saya dimulai dengan secangkir kopi. Gorengan ubi dari ‘nyonya besar’ di rumah. Selepas mandi, stater motor, melaju 60 kilometer perjam ke arah barat. Pukul 10.30 tiba di Rumah Independen. 20-an mahasiswa sudah menanti. Mungkin dongkol karena saya menjanjikan tepat pukul 10.

Mereka mahasiswa jurnalistik dari UIN Alauddin. Yang hari ini berkesempatan dapat kuliah dari seorang jurnalis ahli digital. Begitu kurang lebih ibu dosennya memperkenalkan saya. Terima kasih luar biasa bumbu-bumbu manisnya Bu Af Astrid. Meski terkesan berlebih tapi saya menerimanya riang gembira.

Dua jam waktu yang saya gunakan untuk menjabarkan banyak hal. Kaitannya jurnalis dan teknologi. Mulai dari membuat blog sederhana yang gratis macam Blogspot, WordPress hingga Medium. Sampai memberi pemahaman bagaimana memanfaatkan perkakas sederhana milik Google untuk menangkal hoaks.

Antusias tentu saja. Apalagi saya menjelaskan ada potensi uang dari internet. Lewat Google Adsense kita bisa bermain-main dengan konten, baik tulisan di blog atau video di Youtube. Saya pikir, mata akan dua kali lebih lebar jika membicarakan perkara duit.

Walau saya merasa belum ahlinya. Bahkan masih banyak yang lebih paham di luar sana. Tapi melihat mata anak-anak muda itu berbinar merupakan satu kepuasan tersendiri. Terlebih jika kita mampu menggiring mereka untuk lebih kritis dan memanfaatkan peluang yang ada. Tidak hanya menggerutu dan terus menyalahkan keadaan.

Bukankah bertindak akan jauh lebih baik dari hanya duduk melihat perubahan terus terjadi?.

Setelah perkara kuliah kuliahan itu rampung. Perhatian tertuju pada riuh peringatan hari buruh. Lewat beranda media sosial, ruang-ruang diskusi WAG sampai mengecek beberapa situs berita. Saya membaca ujaran Prabowo ke media-media hingga pemukulan pewarta foto di kota kembang. Tentang segerombolan orang menyerang gerai cepat saji di Makassar sampai penculik anak di Kendari.

Untuk pemukulan di Bandung saya serukan lawan. Untuk penculikan di Kendari saya kirimkan kutukan. Untuk penyerangan di Makassar mungkin harus belajar. Dan untuk komentar Yang Dimulia Prabowo Subianto, saya kebingungan. Takut dituduh lawan meski juga bukan kawan.

Soal perkara hari buruh ini, saya pribadi kelimpungan. Saya adalah jurnalis dan tentu saja juga buruh. Tapi sejak 2016 selalu absen dapat Tunjangan Hari Raya. Karena bingung harus berharap dari siapa. Saya memang terdaftar di dua media sekaligus, Beritagar dan CNN Indonesia. Tapi bukan sebagai karyawan. Klausulnya sih saya jadi kontributor. Tapi tetap bebas mengirim karya ke banyak tempat.

Sebagai manusia lemah bermodal kecakapan pas-pasan dalam menulis, ini tentu saja perkara sulit. Apalagi dijadikan alat untuk menafkahi orang rumah. Yang paling menyedihkan tentu saja menyaksikan orang-orang menghabiskan tunjangan sebelum lebaran. Tapi ini adalah pilihan yang telah saya pikir matang-matang. Tanpa drama dan air mata.

Saya telah banyak menyaksikan jurnalis yang seketika kehilangan kerja. Saya pun sempat mengalaminya. Sakit dan terpuruk. Sejak itu saya beranikan diri untuk mandiri. Saya harus membangun pesona sendiri. Meski sulit dan berdarah-darah. Mungkin bahasanya berlebih. Tapi percayalah, saya sudah mengalami penolakan kali-kali.

Lupakan soal curhatannya, kembali ke hari buruh. Perjuangan teman-teman jurnalis patut diapresiasi hari ini. Kita memang tak bisa menutup mata, ada banyak masalah dalam sistem ketenagakerjaan media di Indonesia. Tapi juga harus mengapresiasi beberapa perusahaan yang telah memanusiakan jurnalisnya.

Kalau di Sulawesi isu soal upah jurnalis masih mendominasi. Mungkin juga secara nasional. Yang saya tahu memang masih ada jurnalis yang dibayar Rp10.000 per tulisan. Atau buruk-buruknya hanya digaji Rp1 juta per bulan. Sedangkan UMK Makassar 2019 ini sudah Rp2,8 juta. Bahkan beberapa selentingan yang saya dengar ada media yang dua hingga empat bulan tidak lagi membayar gaji.

Pertanyaannya, kenapa jurnalisnya masih setia dan tetap bekerja. Mereka hidup dari mana kalau tidak digaji?. Ini nampaknya pertanyaan paling bodoh yang tidak harus saya jawab.

Saya sebenarnya telah merencanakan menulis semua perkara jurnalis buruh ini sebagai esai atau apalah bentuknya. Mungkin semacam curhatan tak resmi seorang jurnalis ‘tombak yang bebas’ alias freelance yang selalu luput dibicarakan. Hingga akhirnya jingga di barat menyembunyikan matahari dan satu pesan masuk begitu saja.

“… thanks a lot for choosing me as your wife,” begitu sepenggal kata yang tertulis.

Tak perlu saya jelaskan pesan ini lebih rinci. Tapi jadi kado yang mewah menjelang 2 Mei. Menjadi orang yang selalu tidur di sebelah saya itu cukup berat. Saya pikir tidak semua perempuan mau menerima lelaki yang tak punya THR. Apalagi tidak romantis.

Saya hanya mau katakan thank you too for being my wife. Saya yang sebenarnya beruntung memiliki mu. Dan terima kasih telah mengalihkan perhatian saya hari ini.